Rupiah Tembus Rp16.600, Catat Pelemahan Terdalam Sejak Mei 2025
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah signifikan, mencatat penurunan 1,38% sepanjang pekan ini dan menyentuh posisi terlemah sejak Mei 2025.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.601 per dolar AS pada Jumat (19/9/2025), turun 0,45% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp16.527 per USD.
Kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau JISDOR juga menunjukkan tekanan serupa. Rupiah ditutup di Rp16.578 per USD, melemah 0,48% secara harian dan 1,14% sepanjang pekan.
Berdasarkan data BI, perdagangan Jumat dibuka di level Rp16.550 per USD, lebih rendah dari penutupan Kamis di Rp16.500 per USD. Meski indeks dolar AS (DXY) melemah ke level 97,35, rupiah justru terus tertekan.

Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif pasar terhadap mata uang domestik yang belum mereda.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi eksternal, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan bahwa keputusan suku bunga akan berbasis data, serta belum mendukung pemangkasan suku bunga agresif sebesar 50 basis poin (bps), memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang.
“Powell juga menyatakan setiap keputusan The Fed akan bergantung pada data, bukan tekanan dari pihak lain,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, klaim pengangguran awal mingguan di AS turun di bawah ekspektasi, menandakan pasar tenaga kerja yang masih kuat. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.
Dari dalam negeri, ketidakpastian global akibat perang tarif AS memperburuk sentimen. Ibrahim menyoroti pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan angka pengangguran yang menjadi tantangan bagi perekonomian nasional.
Ia juga menyoroti kebijakan Menteri Keuangan Purbaya, yang mengalokasikan dana Rp200 triliun ke perbankan untuk mendukung kredit. Menurutnya, langkah ini belum tentu efektif jika permintaan kredit dari dunia usaha tetap lemah.
“Sepanjang isu permintaan (kredit) tidak dicarikan solusi, dunia usaha tidak akan ekspansif. Menggelontorkan likuiditas perbankan sebesar itu tidak bisa membantu jika sektor riil tidak bergairah,” tegasnya.
Ibrahim memprediksi rupiah masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan depan.
Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.600 – Rp16.660 per USD.
“Selama tekanan eksternal masih kuat dan permintaan kredit dalam negeri belum pulih, rupiah berpotensi sulit keluar dari tren pelemahan,” tambahnya.
Baca Juga
Komentar