Rokok Jadi Penyelamat IHSG Usai Sri Mulyani Diganti Purbaya, 4 Emiten Catat Lonjakan Tajam
Pena Insight
Jakarta, 9 September 2025 – Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa benar-benar mengguncang pasar. Bukannya perbankan yang jadi penopang, justru sektor rokok yang tiba-tiba tampil sebagai bintang penyelamat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG pada Senin (8/9) anjlok 1,28 persen ke 7.766,84. Pasar perbankan babak belur, investor kabur, sementara saham-saham rokok melesat dua digit. Ironis, sektor yang selalu jadi kambing hitam kebijakan fiskal justru muncul sebagai jawaban di tengah ketidakpastian.
Saham perbankan besar BCA, BRI, Mandiri, hingga BNI dihantam aksi jual brutal. Reshuffle dianggap membawa ketidakpastian baru pada kebijakan fiskal, membuat investor memilih keluar dari sektor keuangan.
Namun di menit-menit terakhir perdagangan, justru rokok yang terbang tinggi. Empat emiten rokok mencetak lonjakan gila-gilaan:
-
Gudang Garam (GGRM) +12,5% ke Rp9.900
-
HM Sampoerna (HMSP) +17,7% ke Rp630
-
Wismilak Inti Makmur (WIIM) +16,3% ke Rp925
-
Indonesian Tobacco (ITIC) +11,6% ke Rp250
Arus beli besar-besaran masuk, seolah pasar menemukan “pelarian baru” dari ketidakpastian fiskal.
Selama era Sri Mulyani, industri rokok ditekan lewat kebijakan cukai agresif. Kini, dengan Purbaya di kursi Menkeu, investor membaca kemungkinan arah kebijakan yang lebih “ramah” terhadap tembakau. Ekspektasi itu cukup untuk menggerakkan miliaran dana masuk ke saham rokok.
Fenomena ini menyisakan pertanyaan tajam: apakah industri rokok kembali jadi “pemain utama” dalam ekonomi politik Indonesia? Ataukah ini sekadar manuver spekulatif memanfaatkan reshuffle?
Pasar memberi sinyal jelas: selama ada harapan pelonggaran kebijakan, rokok bisa jadi raja. Dan itu ironis, karena sektor ini sering jadi target kampanye kesehatan publik.
Meski lonjakan saham rokok tampak menggoda, risiko jangka panjang tetap nyata. Regulasi global, tekanan kesehatan, hingga pergeseran ke produk alternatif bisa membatasi ruang gerak industri. Namun, setidaknya untuk saat ini, investor jelas memilih rokok dibanding perbankan.
Pergantian Sri Mulyani ke Purbaya bukan sekadar reshuffle. Ia mengungkap wajah asli pasar modal Indonesia: cepat panik, cepat berpaling, dan siap menukar idealisme kesehatan dengan peluang cuan. Perbankan jatuh, rokok naik. Siapa yang menanggung akibatnya? Rakyat, atau segelintir investor yang tahu cara bermain?
Baca Juga
Komentar