Ray Dalio: Sanksi Global Melemahkan Dolar, Picu Investor Lari ke Emas sebagai Aset Aman
JAKARTA — Investor legendaris dan pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan bahwa kebijakan sanksi ekonomi global yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan sekutunya dapat memperlemah kekuatan dolar AS serta mendorong kenaikan harga emas dunia.
“Sejarah dan logika telah menunjukkan bahwa sanksi mengurangi permintaan terhadap mata uang fiat dan utang yang dinyatakan dalam mata uang tersebut, serta mendukung emas,” ujar Dalio melalui akun X resminya, Jumat (24/10/2025).
Dalio menjelaskan, setiap kali terjadi konflik besar antarnegara, perang ekonomi hampir selalu mendahului atau berjalan seiring dengan perang fisik. Kini, bentuk modern dari perang ekonomi itu disebut sanksi, yakni upaya memutus akses keuangan dan perdagangan negara lawan.
Menurutnya, ketika suatu negara memutus hubungan finansial dengan negara lain—seperti memblokir sistem pembayaran, membekukan aset, atau menghentikan transaksi utang—maka efeknya bukan hanya melemahkan negara yang disanksi, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan terhadap mata uang negara pemberi sanksi.
“Ketika hal ini terjadi pada negara adidaya yang memiliki mata uang cadangan utama dunia, tatanan moneter global pasti akan melemah,” tegas Dalio.
Dalio menilai, kondisi ini menciptakan efek domino terhadap permintaan emas dunia. Emas kembali dipilih sebagai aset lindung nilai (safe haven asset) karena tidak bergantung pada sistem keuangan berbasis dolar maupun perbankan global.
Pernyataan Dalio muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga emas global yang menembus US$ 4.000 per ons troi pada Oktober 2025, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Para analis menilai lonjakan harga emas mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas dolar AS dan risiko jangka panjang dari kebijakan sanksi ekonomi yang semakin agresif.
Dalam analisisnya yang dikutip IntelliNews, Dalio menyoroti “boomerang effect” atau efek balik dari sanksi global yang justru melemahkan sistem keuangan Barat sendiri.
“Negara yang memberi sanksi memang bisa melemahkan ekonomi lawan dan mengurangi beban utangnya, tapi tindakan itu juga mengikis kepercayaan terhadap mata uangnya sendiri,” kata Dalio.
Ia menjelaskan, saat sebuah negara menggunakan mata uangnya sebagai senjata geopolitik, negara lain akan mulai mencari alternatif—baik dengan beralih ke emas, yuan, rubel, atau bahkan sistem pembayaran digital lintas negara seperti CIPS (China) dan SPFS (Rusia).
Fenomena ini, menurut Dalio, berpotensi mengubah struktur keuangan global yang selama puluhan tahun didominasi oleh dolar AS.
Sejumlah ekonom internasional turut mendukung pandangan Dalio. Mereka menyebut penggunaan sanksi ekonomi yang terlalu luas dapat mempercepat proses “dedolarisasi”, di mana negara-negara mulai meninggalkan dolar dalam perdagangan internasional.
Selain itu, Dalio juga menekankan bahwa kebijakan moneter longgar, utang pemerintah AS yang terus meningkat, serta defisit anggaran kronis memperburuk posisi dolar di mata investor global.
“Kombinasi defisit tinggi, sanksi berlebihan, dan perang ekonomi membuat kepercayaan terhadap dolar semakin rapuh. Dalam kondisi seperti itu, emas menjadi aset paling logis untuk lindung nilai,” tulisnya.
Sebagai pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates, Dalio dikenal dengan analisis historisnya terhadap siklus ekonomi dan geopolitik global. Ia telah lama memperingatkan bahwa dunia tengah berada di ambang “pergeseran kekuatan global” dari Barat ke Timur, dengan China menjadi pusat ekonomi baru.
Kenaikan tajam harga emas dalam beberapa bulan terakhir juga memperkuat tesis Dalio. Investor besar dunia mulai menambah portofolio emas mereka, sementara beberapa bank sentral, termasuk China, India, dan Turki, terus meningkatkan cadangan emas nasionalnya.
Para analis memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2025, terutama jika ketegangan antara Barat dan Timur terus meningkat dan kebijakan suku bunga global tetap tinggi.
“Selama geopolitik masih tidak pasti, emas akan tetap menjadi tempat berlindung bagi uang pintar dunia,” kata Dalio menutup analisanya.
Baca Juga
Komentar