PT SMI Kucurkan Rp 26,9 Triliun untuk Energi Baru Terbarukan, Dorong Transisi Hijau Nasional
SUMATERA UTARA — Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi hijau nasional dengan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 26,9 triliun ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT) hingga September 2025.
Angka tersebut menempatkan sektor EBT sebagai penerima pembiayaan terbesar kedua setelah infrastruktur jalan dan jalan tol. Total komitmen pembiayaan dan investasi PT SMI kepada berbagai badan usaha mencapai Rp 74,2 triliun.
“PT SMI sebagai fiscal tools pemerintah berkomitmen mendukung pembangunan berkelanjutan dengan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Kami juga telah memperoleh akreditasi dari Green Climate Fund (GCF),” ujar Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, dalam acara Media Gathering di Sumatera Utara, Senin (10/11/2025).
Dari total komitmen tersebut, pembiayaan untuk sektor jalan dan jalan tol mendominasi dengan porsi 34,42% atau senilai Rp 41,13 triliun. Sementara sektor energi baru dan terbarukan menempati posisi kedua dengan 22,54% atau Rp 26,93 triliun.
Adapun sektor transportasi menerima Rp 14,46 triliun (12,1%), ketenagalistrikan Rp 13,99 triliun (11,7%), dan keuangan Rp 8,26 triliun (6,91%). Sisanya disalurkan ke sektor telekomunikasi, migas, air minum, dan infrastruktur sosial.
Menurut Reynaldi, tiga sektor utama — jalan tol, energi baru terbarukan, dan transportasi — menjadi arah strategis pembiayaan PT SMI ke depan. Hal ini sejalan dengan fokus pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“PT SMI berperan aktif dalam mendukung proyek-proyek hijau yang mendukung dekarbonisasi dan efisiensi energi nasional,” ujarnya.
Selain pembiayaan kepada badan usaha, PT SMI juga menyalurkan Rp 17,6 triliun kepada pemerintah daerah (Pemda) untuk berbagai proyek infrastruktur publik.
Dari total itu, 57,59% digunakan untuk pembangunan jalan dan jembatan, 12,69% untuk sumber daya air, 6,2% sektor kesehatan, 6,02% perumahan, 5,67% pendidikan, serta 3,48% pangan dan sisanya untuk perdagangan, penerangan jalan umum, pariwisata, dan sektor lain.
Dukungan terhadap energi hijau, menurut Reynaldi, juga tercermin dari portofolio pembiayaan PT SMI yang mencakup proyek-proyek strategis berorientasi rendah karbon.
“Sebagian besar pembiayaan kami diarahkan untuk proyek energi bersih, efisiensi energi, dan infrastruktur hijau,” jelasnya.
Hingga September 2025, PT SMI mencatatkan komitmen pembiayaan sebesar Rp 120,5 triliun untuk mendukung pembangunan 120 Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total nilai proyek mencapai Rp 677,5 triliun.
Proyek tersebut mencakup 39 proyek jalan dan tol, 59 proyek ketenagalistrikan, 9 proyek transportasi, 7 proyek bendungan dan irigasi, 3 proyek air minum, 2 proyek telekomunikasi, dan 1 proyek migas.
Reynaldi menegaskan bahwa arah pembiayaan PT SMI selaras dengan visi pembangunan Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita, terutama pada aspek percepatan infrastruktur, pemerataan ekonomi, dan kemandirian energi nasional.
“Dari delapan visi Asta Cita Presiden Prabowo, PT SMI berkontribusi dalam lima di antaranya melalui pembiayaan proyek strategis di berbagai daerah,” ungkap Reynaldi.
Ia menambahkan, PT SMI akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta untuk mempercepat realisasi proyek hijau dan mendukung target net zero emission 2060.
“Fokus kami bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan tersebut memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif bagi masyarakat,” tutupnya.
Baca Juga
Komentar