PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Berpotensi Melesat
Jakarta -- Peluang emiten batubara untuk mendongkrak kinerja mereka di sisa tahun 2025 semakin terbuka lebar. Kondisi ini dipicu oleh potensi peningkatan permintaan global terhadap komoditas energi fosil tersebut menjelang akhir tahun. Sejumlah analis pasar modal memprediksi tren positif akan memberikan dorongan signifikan terhadap harga saham sektor batubara di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Permintaan batubara global cenderung menguat menjelang musim dingin di belahan bumi utara. Kebutuhan energi yang meningkat pada periode tersebut biasanya direspons dengan peningkatan konsumsi batubara untuk pembangkit listrik. Inilah yang menjadi salah satu katalis penguatan harga komoditas batu hitam tersebut.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzati, menjelaskan bahwa meskipun harga batubara saat ini masih bergerak di kisaran US$ 106 per ton, tren historis menunjukkan kenaikan harga pada kuartal IV setiap tahunnya. “Permintaan batubara biasanya meningkat pada akhir tahun seiring meningkatnya kebutuhan energi,” ujarnya, dikutip Selasa (1/10/2025).
Menurut Arinda, tekanan harga batubara pada awal tahun ini lebih disebabkan oleh penurunan permintaan industri manufaktur di beberapa negara besar. Namun, seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi global, permintaan batubara kembali menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan, konsumsi batubara global diperkirakan tumbuh sekitar 1,8% pada kuartal IV 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh negara-negara Asia, terutama Tiongkok dan India, yang masih mengandalkan batubara sebagai sumber energi utama.
Di Indonesia sendiri, tren harga ini membuka peluang bagi sejumlah emiten batubara untuk memperbaiki kinerja keuangan mereka menjelang akhir tahun. Emiten-emiten dengan basis produksi besar diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Dua di antaranya adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Kedua perusahaan ini memiliki kapasitas produksi besar dan jaringan ekspor yang kuat, sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan harga global.
ADRO, misalnya, mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 5% secara tahunan pada semester I 2025. Dengan ekspektasi harga yang lebih tinggi di kuartal IV, margin laba bersih perseroan diperkirakan akan menguat signifikan.
Sementara itu, PTBA memiliki pasar domestik yang stabil dan kontrak jangka panjang dengan PLN. Namun, kelebihan produksi yang tidak terserap pasar domestik dapat diekspor dengan harga premium jika pasar global menguat. Hal ini dapat memperkuat posisi keuangan PTBA secara keseluruhan.
Analis Bahana Sekuritas menilai, harga batubara berpotensi naik ke level US$ 120–130 per ton pada akhir 2025 jika permintaan Asia terus tumbuh. Level tersebut dapat menjadi titik balik bagi saham-saham sektor batubara yang sempat melemah sepanjang paruh pertama tahun ini.
Selain faktor permintaan, dinamika geopolitik juga menjadi katalis tambahan. Konflik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok energi dunia membuat negara-negara konsumen energi besar mulai kembali melirik batubara sebagai sumber energi alternatif jangka pendek.
Namun demikian, para analis juga mengingatkan bahwa faktor regulasi lingkungan dan transisi energi tetap menjadi tantangan utama. Negara-negara Eropa, misalnya, mulai memperketat kebijakan emisi karbon yang dapat mempengaruhi jangka panjang pasar batubara.
Pemerintah Indonesia sendiri masih menyeimbangkan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik. Kuota Domestic Market Obligation (DMO) tetap diberlakukan, namun produsen diberi ruang ekspor ketika produksi melebihi kuota.
Bagi investor pasar modal, momentum kenaikan harga batubara ini menjadi peluang untuk melakukan rebalancing portofolio. Saham-saham sektor batubara yang memiliki fundamental kuat dan struktur biaya efisien diperkirakan menjadi pilihan utama.
Sektor batubara selama ini dikenal memiliki siklus harga yang fluktuatif, namun ketika momentum kenaikan terjadi, efeknya terhadap laba bersih emiten bisa sangat signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, saham ADRO dan PTBA menjadi barometer pergerakan sektor ini di bursa.
Sejumlah manajer investasi juga mencermati bahwa valuasi saham sektor batubara saat ini masih relatif undervalued dibandingkan sektor lain. Dengan potensi kenaikan harga komoditas, valuasi ini berpotensi naik seiring dengan meningkatnya laba.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati faktor risiko seperti perubahan regulasi ekspor, fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS, dan potensi koreksi harga global yang cepat jika permintaan tidak sesuai ekspektasi.
Dengan kata lain, sektor batubara menjelang akhir 2025 berada dalam posisi strategis: terbuka peluang penguatan kinerja emiten, namun tetap dibayangi tantangan struktural jangka panjang.
Baca Juga
Komentar