Prabowo Ungkap Bahaya AI dan Hoaks: Satu Orang Bisa Kendalikan Ribuan Akun, Ancam Stabilitas Negara
Jakarta – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyoroti ancaman serius perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan media sosial terhadap stabilitas suatu negara. Dalam pernyataannya, ia mengungkap bagaimana teknologi modern kini dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks hingga menciptakan disinformasi dalam skala besar.
Menurut Prabowo, perkembangan teknologi informatika digital telah memungkinkan satu individu mengendalikan ribuan akun sekaligus, menciptakan efek domino dalam penyebaran informasi yang belum tentu benar.
“Dengan teknologi AI, satu orang bisa punya seribu akun. Dari situ bisa diperbanyak lagi, bisa ratusan bahkan ribuan orang ikut membuat gaduh,” ujarnya.
Ia menjelaskan fenomena ini dikenal sebagai echo chamber, sebuah kondisi di mana informasi yang sama terus diulang dalam suatu lingkaran sehingga seolah-olah menjadi kebenaran publik.
Prabowo menegaskan bahwa pola ancaman terhadap suatu negara kini telah berubah drastis. Jika dahulu konflik dilakukan melalui kekuatan militer, kini serangan bisa dilakukan melalui ruang digital.
“Dulu kalau mau merusak negara lain, kirim pasukan atau bom. Sekarang tidak perlu. Cukup dengan permainan media sosial, fitnah, dan hoaks,” tegasnya.
Fenomena ini dinilai jauh lebih berbahaya karena tidak terlihat secara fisik, namun dampaknya mampu memecah belah masyarakat dan merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung kemampuan AI yang semakin canggih, termasuk menciptakan suara dan video palsu (deepfake). Ia bahkan mengaku pernah menjadi korban manipulasi teknologi tersebut.
“Ada video saya nyanyi suaranya bagus, padahal saya tidak bisa nyanyi. Ada juga pidato saya dalam bahasa Mandarin dan Arab, padahal itu bukan saya,” ungkapnya.
Teknologi semacam ini, lanjutnya, berpotensi menyesatkan publik jika tidak disikapi dengan bijak. Masyarakat bisa dengan mudah mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Prabowo mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpancing oleh informasi yang beredar di media sosial. Ia menekankan pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi, terutama di era digital saat ini.
“Kalau kita difitnah atau dihujat, anggap itu sebagai peringatan supaya kita lebih waspada,” katanya.
Ia juga menilai bahwa literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi gelombang disinformasi. Tanpa kemampuan memilah informasi, masyarakat rentan menjadi korban manipulasi opini.
Lebih jauh, Prabowo menekankan pentingnya peran pemerintah, lembaga, serta masyarakat dalam memperkuat ketahanan informasi nasional. Hal ini mencakup peningkatan edukasi digital, pengawasan terhadap penyalahgunaan teknologi, hingga regulasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, ancaman digital tidak bisa dianggap remeh karena dapat memengaruhi stabilitas politik, ekonomi, bahkan keamanan nasional secara keseluruhan.
Pernyataan Prabowo menjadi pengingat bahwa era digital membawa dua sisi yang berbeda: kemudahan akses informasi sekaligus potensi penyalahgunaan yang besar. Dengan kemampuan AI yang semakin maju, ancaman disinformasi kini tidak lagi sekadar isu, melainkan realitas yang harus dihadapi bersama.
Kesadaran kolektif, literasi digital, dan kehati-hatian dalam bermedia sosial menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak dalam arus hoaks dan manipulasi informasi yang dapat merugikan banyak pihak.
Baca Juga
Komentar