Perpanjangan Insentif PPN Jadi Katalis Saham Properti DILD dan Dua Emiten Ini Diuntungkan
Jakarta — Kepastian perpanjangan insentif diskon pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 100% hingga tahun 2026 diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi sektor properti. Kebijakan ini dinilai mampu mengerek permintaan rumah, memperbaiki arus kas pengembang, serta mengerek kinerja emiten properti di bursa.
Pemerintah telah memastikan bahwa skema PPN DTP untuk pembelian rumah baru akan tetap diberlakukan, dengan pembebasan pajak sepenuhnya hingga akhir 2026. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program insentif fiskal yang telah diterapkan sejak masa pandemi, yang terbukti mampu meningkatkan penjualan properti dan menopang sektor konstruksi nasional.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, insentif PPN DTP berhasil meningkatkan penjualan rumah tapak dan apartemen hingga 15% secara tahunan pada periode 2021–2023. Dengan perpanjangan kebijakan ini, para pengembang berharap dapat menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global.
Salah satu emiten yang diperkirakan akan diuntungkan adalah PT Intiland Development Tbk (DILD). Perusahaan ini memiliki portofolio proyek residensial menengah ke atas di kawasan strategis seperti Jakarta Selatan dan Tangerang. Dengan stimulus pajak, daya beli konsumen terhadap segmen ini berpotensi meningkat signifikan.
Head of Research dari salah satu sekuritas nasional menyebutkan bahwa DILD berpeluang mencatatkan peningkatan penjualan properti hingga 20% tahun depan. “Insentif PPN DTP mempercepat keputusan pembelian terutama untuk konsumen kelas menengah yang sensitif terhadap biaya tambahan,” ujarnya.
Selain DILD, emiten lain yang diperkirakan akan terdorong adalah PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Kedua pengembang besar ini memiliki landbank luas dan produk rumah tapak yang menyasar segmen menengah—pasar utama yang paling responsif terhadap insentif pajak.
Analis menilai, CTRA memiliki fleksibilitas tinggi dalam mengatur strategi penjualan berkat jaringan proyeknya yang tersebar di berbagai kota besar. Dengan dukungan insentif PPN, perusahaan dapat mempercepat penyerapan unit-unit yang selama ini tertahan akibat daya beli melemah.
Sementara itu, Summarecon (SMRA) diperkirakan akan mendapatkan keuntungan ganda. Selain insentif fiskal, perusahaan ini juga tengah menikmati tren peningkatan permintaan rumah di kawasan penyangga Jakarta seperti Bekasi dan Serpong. “Insentif PPN DTP mempercepat closing penjualan dan memperbaiki arus kas,” tulis salah satu riset pasar modal.
Di sisi makroekonomi, ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga memberi angin segar bagi sektor properti. Penurunan bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) diprediksi dapat meningkatkan kemampuan bayar konsumen, sehingga memperkuat efek positif dari insentif pajak.
“Perpanjangan PPN DTP ini ibarat ‘bensin tambahan’ di saat mesin properti mulai panas lagi. Ini momentum penting bagi pengembang untuk memperluas penetrasi pasar,” ujar pengamat properti dari Institute for Urban Development Studies.
Bursa Efek Indonesia mencatat, indeks sektor properti mengalami penguatan 3,4% dalam sepekan terakhir, didorong oleh ekspektasi stimulus fiskal dan moneter. Saham DILD, CTRA, dan SMRA menjadi tiga emiten yang mengalami peningkatan volume transaksi tertinggi.
DILD tercatat naik 6,5% dalam sepekan, dengan peningkatan nilai transaksi harian mencapai dua kali lipat dari rata-rata tiga bulan terakhir. Sementara itu, CTRA dan SMRA masing-masing menguat 4,3% dan 5,1% didukung sentimen positif dari kebijakan pemerintah.
Sejumlah manajer investasi mulai memasukkan saham properti kembali ke dalam portofolio utama mereka. Sektor ini dinilai undervalued dibandingkan sektor konsumsi dan keuangan, padahal memiliki katalis kuat hingga dua tahun ke depan.
“Valuasi emiten properti saat ini masih relatif murah. Dengan adanya PPN DTP dan kemungkinan turunnya bunga, sektor ini bisa menjadi outperformer dalam jangka menengah,” kata analis senior dari sebuah manajer aset global.
Selain insentif PPN, pemerintah juga berencana mempercepat realisasi proyek perumahan rakyat melalui skema kredit bersubsidi dan kerja sama dengan BUMN karya. Langkah ini akan memperluas pasar properti dari sisi suplai dan permintaan.
Dengan kombinasi stimulus fiskal, moneter, dan perencanaan proyek pemerintah, sektor properti diperkirakan menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi domestik hingga 2026. Pengembang besar dengan landbank kuat dan neraca keuangan sehat akan menjadi penerima manfaat utama.
DILD, CTRA, dan SMRA menjadi tiga nama yang paling banyak direkomendasikan oleh analis pasar modal. Prospek pertumbuhan laba, arus kas positif, dan posisi pasar yang strategis membuat ketiganya berpotensi menjadi primadona sektor properti dalam dua tahun mendatang.
Baca Juga
Komentar