Peringatan HAN 2025 Kota Bekasi, Rini Handayani Sampaikan Pesan Menteri PPPA Soal Perlindungan Anak dan Sekolah Ramah Anak
Pena Insight
Bekasi, 26 Juli 2025 — Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 tahun 2025 di Kota Bekasi berlangsung meriah namun sarat pesan serius. Lebih dari 2.000 anak hadir dalam acara ini, menunjukkan antusiasme luar biasa terhadap momentum tahunan yang kini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan simbolik. Melalui sambutan tertulis Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Partisipasi dan Lingkungan Strategis, Ibu Rini Handayani, pemerintah pusat menggarisbawahi pentingnya integrasi suara anak dalam kebijakan nyata.
Acara yang digelar serempak pada 23 Juli 2025 ini menjadi bukti konkret implementasi pendekatan desentralisasi partisipatif, namun tetap dengan komando terpusat. Dengan mengusung tema nasional “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” serta tema lokal Kota Bekasi “Wujudkan Sekolah Ramah Anak”, peringatan HAN ini menyampaikan pesan tegas: anak bukan hanya objek pembangunan, tapi subjek dengan hak dan harapan.
Salah satu bagian paling menyentuh dari acara ini adalah pembacaan 12 Harapan Anak Kota Bekasi yang dikumpulkan dari seluruh kelurahan. Harapan-harapan ini tidak berhenti di atas panggung, melainkan diusulkan agar menjadi bagian dari dokumen perencanaan pembangunan daerah. Pemerintah Kota Bekasi mendapat apresiasi tinggi karena membuka ruang dialog antara anak dan pemangku kebijakan secara langsung.
Lebih lanjut, dalam sambutan tertulis Menteri PPPA, ditegaskan bahwa kota layak anak bukanlah jargon kosong. Ia merupakan hasil dari sinergi seluruh lapisan masyarakat dan orang tua, tenaga pendidik, aparat pemerintahan, dan bahkan pelaku ekonomi. Anak-anak yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak tidak akan tumbuh begitu saja tanpa lingkungan yang aman, suportif, dan ramah anak, khususnya di sekolah.
Pelaksanaan HAN tahun ini juga diwarnai gagasan inovatif berupa pembelajaran luar kelas dan permainan tradisional. Kota Bekasi menjadi salah satu daerah yang berhasil menerapkan Surat Edaran Mendikdasmen secara optimal, yang mendorong sekolah sebagai satuan pendidikan ramah anak. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa sepertiga waktu anak dihabiskan di sekolah, sehingga lembaga pendidikan tak hanya wajib mendidik tetapi juga mengasuh.

Pendidikan yang berbasis pada prinsip hak anak harus diimplementasikan dalam seluruh jenjang dan model pendidikan. Bukan sekadar materi akademik, tetapi nilai kasih sayang, empati, dan perlindungan harus menjadi fondasi utama pendidikan. Inilah jalan menuju kota layak anak yang sejati, seperti yang dicita-citakan oleh anak-anak Bekasi.
“untuk anak-anak bunda yang bunda sayangi, kalian bukanlah sekedar penerus bangsa kalian adalah cahaya masa depan bangsa, teruslah bermimpi, teruslah belajar, dan jangan pernah takut menjadi diri sendiri. Kami orang dewasa punya tanggung jawab untuk mencintai, melindungi dan mendampingi kalian untuk menjadi tumbuh kembang dan menjadi pribadi hebat. Bunda percaya di setiap tawa kalian tersimpan senyum hebat. Dibalik mata kalian ada mimpi mimpi besar yang akan mengubah dunia yang penuh kasih adil dan kesempatan. Kalian layak bahagia, aman, dan layak untuk di dengar. Teruslah tumbuh, teruslah bersinar dan percayalah kami ada disini untuk kalian” ucap ahli staff membaca surat dari menteri PPPA
Mengutip pesan Menteri PPPA yang dibacakan Ibu Rini, anak-anak Indonesia tidak hanya generasi penerus, tetapi "cahaya masa depan bangsa". Mereka berhak bahagia, aman, dan dihargai pendapatnya. Suara anak bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan harus menjadi parameter keberhasilan pembangunan kota dan bangsa secara menyeluruh.
Hari Anak Nasional ini juga menjadi alarm bagi seluruh pihak agar tidak menjadikan momen ini sebagai formalitas belaka. Tantangan anak hari ini adalah eksploitasi, kekerasan, dan keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan publik. Pemerintah pusat dan daerah diminta bekerja lebih dari sekadar menghadiri panggung peringatan.
Dengan kolaborasi nyata, mulai dari keluarga hingga institusi negara, Hari Anak Nasional bukan hanya seremoni tahunan, tapi gerakan berkelanjutan. Bekasi memberi contoh bahwa ketika anak diberi ruang bersuara, maka kebijakan akan lebih manusiawi dan berjangka panjang. Harapannya, ini menjadi langkah awal mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang benar-benar dimulai dari anak-anak hari ini.
Baca Juga
Komentar