Nadeen Ayoub Resmi Wakili Palestina di Miss Universe 2025, Menuai Kontroversi Global
Pena Insight
Dubai, 6 September 2025 – Ajang Miss Universe 2025 akan mencatat sejarah baru dengan hadirnya perwakilan Palestina untuk pertama kalinya. Nadeen Ayoub, 27 tahun, diumumkan sebagai Miss Palestine dan akan bertanding di panggung internasional di Thailand pada 21 November mendatang. Namun, partisipasinya menimbulkan banyak pertanyaan terkait legitimasi gelar yang diembannya serta kontroversi politik yang menyertainya.
Ayoub, yang juga tercatat sebagai pendiri sekaligus manajer Miss Palestine Organization, mengumumkan keikutsertaannya melalui media sosial dan situs resmi organisasi. Meski begitu, publik hampir tidak menemukan catatan resmi tentang penyelenggaraan kontes Miss Palestina, daftar kontestan lain, atau proses seleksi yang jelas.
Latar belakang pribadi Ayoub juga memicu rasa penasaran. Meski mengusung identitas Palestina, ia dikabarkan lahir di Amerika Serikat, tumbuh besar di Kanada, dan kini menetap di Dubai. Informasi biografi resmi yang minim membuat publik kian skeptis terhadap perjalanan gelarnya.
Dalam unggahannya di Instagram yang diikuti lebih dari 1,1 juta orang, Ayoub menuliskan kebanggaannya membawa nama Palestina. Ia mengenakan selempang bertuliskan “Miss Universe Palestine” seraya menekankan perannya sebagai suara bagi rakyat yang selama ini merasa terpinggirkan.
Gelar Miss Palestine pertama kali ia klaim pada 2022. Namun, ia menunda partisipasinya di Miss Universe setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam wawancara bersama The National, media asal Uni Emirat Arab, Ayoub menuturkan bahwa dirinya ingin menempatkan sorotan pada penderitaan rakyat Palestina, bukan hanya pada dirinya sebagai ratu kecantikan.
Pernyataannya yang menyebut “genosida di Gaza” segera memicu kontroversi di media Israel. Beberapa aktivis dan pemerhati kontes kecantikan pun menyatakan kebingungan, mengingat Miss Universe biasanya mengedepankan perdamaian dan persatuan di atas isu politik.
Adela Cojab, aktivis Yahudi sekaligus runner-up Miss Israel, mengatakan kehadiran Ayoub bisa diterima selama ia benar-benar mengusung nilai koeksistensi. “Miss Universe seharusnya mewakili persatuan, perdamaian, dan koeksistensi,” ujarnya.
Organisasi Miss Palestine sendiri baru mendaftarkan situs resminya pada Mei 2025, dengan menampilkan foto Ayoub mengenakan mahkota dalam nuansa hitam-putih elegan. Namun, pihak penyelenggara belum mau menjelaskan detail bagaimana Ayoub memperoleh gelar Miss Palestine 2022. Mereka hanya menyebut akan menyiapkan materi resmi yang akan diumumkan kemudian.
Kontes Miss Palestine 2026 pun sudah diumumkan pendaftarannya, meski sejarah panjang menunjukkan adanya penolakan keras terhadap ajang ini. Pada 2009, rencana kontes di Ramallah dibatalkan setelah mendapat tentangan dari Hamas yang menilai acara itu sebagai bentuk “korupsi moral.”
Riwayat pribadi Ayoub cukup beragam. Berdasarkan catatan publik, ia belajar sastra Inggris dan psikologi di University of Western Ontario, Kanada. Ia juga pernah mengajar di Friends School, Ramallah, serta aktif di United in Humanity, sebuah lembaga nonprofit berbasis di Washington yang berfokus pada misi kemanusiaan di Gaza.
Selain itu, Ayoub mengembangkan Olive Green Academy di Dubai, yang bergerak di bidang pelatihan influencer dan pengembangan personal branding. Jejak kariernya ini menunjukkan sisi profesional di luar panggung kecantikan.
Namun, kritik terus bermunculan. Cojab menegaskan bahwa Ayoub sebaiknya bersuara menentang ekstremisme, khususnya serangan Hamas yang menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel. Hal ini dianggap sebagai syarat moral untuk dapat diterima di panggung dunia.
Isu geopolitik kian meruncing, sebab hingga kini Israel dan Amerika Serikat tidak mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Sebaliknya, Prancis, Kanada, dan sejumlah negara lain menyatakan akan mendukung pengakuan resmi terhadap Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB mendatang.
Miss Universe Organization (MUO) sendiri menyatakan terbuka terhadap kehadiran Ayoub. Mario Bucaro, wakil presiden hubungan internasional MUO, menyebut ajang ini bertujuan menampilkan keindahan, bakat, dan ketangguhan kontestan tanpa memandang latar belakang politik.
Meski demikian, para pengamat pageant menilai kehadiran Ayoub kemungkinan besar melalui jalur “gelar penunjukan.” Menurut Laura Clark, direktur Miss Earth USA, kontestan dapat ditunjuk langsung jika negaranya tidak memiliki jalur nasional. Proses ini biasanya melibatkan biaya besar, antara USD 5.000 hingga 10.000.
Kini, kehadiran Nadeen Ayoub sebagai Miss Palestine bukan hanya akan mewarnai panggung Miss Universe 2025, tetapi juga membuka diskusi global tentang politik, identitas, dan representasi dalam dunia kontes kecantikan.
Baca Juga
Komentar