Monitoring Gapura Sri Baduga Bongkar Realitas Program Taman 3R hingga Posyandu Satu Data
Kota Bekasi, 18 September 2025 – Program Gapura Sri Baduga kembali jadi sorotan publik. Pada Rabu, 17 September 2025, Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, bersama Sekretaris TP PKK Kota Bekasi, Wuri Handayani, melakukan monitoring penilaian lapangan. Agenda ini seolah membuka tabir: apakah program-program unggulan benar-benar berjalan, atau hanya sebatas seremoni belaka.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Taman Pojok 3R RW 09, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih. Taman ini digadang-gadang sebagai contoh inovasi masyarakat berbasis Reduce, Reuse, Recycle yang sarat dengan edukasi lingkungan.
Fasilitasnya memang menarik: ada taman bermain ramah anak, pojok baca, kebun edukasi, pengolahan sampah menjadi bahan bakar, hingga ruang serbaguna. Namun pertanyaan publik muncul: sejauh mana fasilitas itu konsisten dimanfaatkan warga, atau hanya tampak “indah” saat ada penilaian.

Kritik pun mengemuka. Banyak aktivis lingkungan menilai program taman seperti ini sering hanya berhenti di tahap pembangunan fisik. Padahal, yang lebih penting adalah pengelolaan berkelanjutan. Tanpa keseriusan menjaga operasionalnya, taman 3R bisa saja berubah menjadi proyek mati suri.
Rombongan kemudian meninjau rumah sehat di wilayah Jatisari. Konsepnya terbilang ideal: ventilasi baik, pencahayaan alami, tata ruang rapi, serta pekarangan yang ditanami tanaman obat keluarga (TOGA). Rumah sehat ini digadang sebagai model hunian sehat.
Meski begitu, sejumlah warga menilai model rumah sehat hanya menjadi etalase, bukan solusi nyata. Pasalnya, mayoritas masyarakat masih bergulat dengan keterbatasan ekonomi dan akses perumahan layak. Apakah konsep rumah sehat bisa diterapkan luas, atau sekadar simbol tanpa keberlanjutan.
Agenda monitoring berlanjut ke Posyandu Teratai 3 Jatisari. Di sinilah titik krusial terungkap. Posyandu tak lagi dipandang sekadar pusat layanan ibu dan anak, tetapi didorong menjadi garda depan pelayanan publik berbasis enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Dalam penjelasannya, Wiwiek menegaskan pentingnya penerapan sistem satu data. Data posyandu nantinya mencakup jumlah jiwa, balita, angka stunting, kader, hingga kebutuhan fasilitas. Tujuannya: seluruh informasi warga bisa dihimpun secara menyeluruh dan digunakan untuk layanan lintas sektor.
Ide ini tampak revolusioner. Namun, sejumlah pengamat menyoroti risiko integrasi data di level akar rumput. Bagaimana jaminan keamanan dan akurasi data? Apakah kader posyandu siap dengan beban kerja administratif yang meningkat.
Kritikus menyebut penerapan satu data di posyandu berpotensi menjadi pisau bermata dua. Jika berhasil, posyandu bisa jadi pintu layanan publik yang efisien. Tetapi bila gagal, justru bisa menambah beban kader dan membuat layanan makin tersendat.
Di balik monitoring yang digelar penuh optimisme, publik menuntut konsistensi. Pasalnya, sudah banyak program sebelumnya yang berakhir tanpa evaluasi jelas. Jangan sampai posyandu berbasis satu data hanya menjadi jargon kebijakan tanpa realisasi di lapangan.

Kecurigaan publik bukan tanpa alasan. Kota Bekasi sudah berulang kali meluncurkan program unggulan dengan gembar-gembor, tapi akhirnya terhenti tanpa keberlanjutan. Fenomena ini dikhawatirkan kembali terulang.
Program Gapura Sri Baduga sebenarnya menyimpan potensi besar. Menggabungkan taman edukasi, rumah sehat, dan posyandu terpadu bisa menjadi model pembangunan berkelanjutan di level kota. Namun, potensi itu bisa hilang jika tidak disertai tata kelola yang transparan.
Di sisi lain, warga berharap agar Pemkot Bekasi tidak menjadikan program ini sekadar ajang lomba atau penghargaan. Sebab, yang dibutuhkan masyarakat adalah dampak nyata, bukan seremoni penilaian.
Keberanian Pemkot Bekasi diuji: berani menindaklanjuti temuan lapangan, atau hanya menumpuk dokumentasi indah di atas kertas.
Monitoring yang dilakukan Wiwiek dan tim hari ini adalah langkah awal. Tetapi langkah awal tidak cukup jika tidak diikuti konsistensi kebijakan, anggaran, dan pengawasan.
Publik menunggu bukti nyata. Apakah Posyandu benar-benar siap menjadi pusat layanan komprehensif berbasis satu data? Apakah Taman 3R dan rumah sehat bisa direplikasi tanpa kehilangan semangat swadaya masyarakat?
Satu hal jelas: siaran pers Pemkot Bekasi kali ini bukan sekadar berita seremonial. Ini adalah pengingat kritis bahwa program unggulan harus lebih dari sekadar proyek pencitraan.
Kota Bekasi punya peluang emas untuk membuktikan bahwa inovasi berbasis masyarakat bisa bertransformasi menjadi sistem pelayanan publik yang kuat, berkelanjutan, dan akuntabel. Tantangannya: berani konsisten atau kembali jatuh pada jebakan program sesaat.
Baca Juga
Komentar