Lo Kheng Hong Serok Saham BDMN & BNGA, Sinyal Serius Investor Lawas di Sektor Bank 2025
Pena Insight
JAKARTA, 9 Juli 2025 — Langkah investor legendaris Lo Kheng Hong memborong saham perbankan BDMN (Bank Danamon Indonesia) dan BNGA (Bank CIMB Niaga) menandai manuver tajam para pemain kawakan dalam memetakan arah industri keuangan nasional pasca pembagian dividen jumbo tahun ini. Gerakan diam-diam ini justru memberi sinyal lantang: sektor perbankan masih jadi ladang cuan jangka panjang bagi investor value.
Lo, yang dikenal sebagai "Warren Buffett-nya Indonesia", memperkuat kepemilikan di dua emiten perbankan besar tersebut tanpa banyak sorotan media. Data yang dirilis ke publik menunjukkan dirinya masuk dalam daftar investor penerima dividen di BDMN dan BNGA tahun buku 2024, dengan total pembagian mencapai Milliaran rupiah.
Pembelian saham yang dilakukan Lo Kheng Hong bukan sekadar strategi spekulatif. Menurut analis pasar dari Samuel Sekuritas, akumulasi saham perbankan besar yang masih undervalued bisa mengindikasikan ekspektasi atas pemulihan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan pertumbuhan kredit di tengah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia tahun ini.
“Langkah Lo bisa dibaca sebagai endorsement terhadap fundamental jangka panjang dua bank tersebut, terutama jika dilihat dari price to book value (PBV) yang masih di bawah rata-rata sektor,” kata analis tersebut dalam laporan tertulis, Selasa (8/7).
Bank Danamon dan CIMB Niaga sendiri tahun ini terbilang royal dalam membagikan dividen. Bank Danamon menetapkan rasio dividen sebesar 35%, sementara CIMB Niaga mencatatkan dividend payout ratio tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, menggarisbawahi kekuatan kinerja keuangan mereka di 2024.
Di pasar modal, aksi Lo mencerminkan satu hal penting: saat sebagian investor ritel mengejar saham-saham teknologi dan komoditas, investor institusional dan individu mapan justru kembali ke sektor "lama" yang terbukti tangguh dalam menghadapi siklus ekonomi.
Apabila tren belanja saham oleh Lo berlanjut, bukan tidak mungkin terjadi efek ekor panjang (long tail effect) yang mengundang investor retail untuk ikut mengoleksi saham BDMN dan BNGA. Ini berpotensi menggerakkan volume perdagangan dan membentuk tren harga baru di bursa dalam waktu dekat.
Kondisi makro saat ini juga mendukung. Stabilitas inflasi, penguatan rupiah, dan sinyal dovish dari The Fed memberi ruang bagi bank-bank nasional untuk ekspansi agresif. Hal ini bisa menjadi justifikasi rasional di balik keberanian Lo memperbesar eksposurnya di sektor ini.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa saham perbankan tetap mengandung risiko, terutama terkait kredit bermasalah (NPL) dan tekanan likuiditas. Namun, bagi investor seperti Lo Kheng Hong yang bermain untuk jangka panjang, volatilitas jangka pendek bukan penghalang.
Langkah Lo Kheng Hong kembali menegaskan filosofi value investing klasik: beli saat undervalued, nikmati saat pasar menyadari nilainya. Dalam konteks BDMN dan BNGA, investor publik kini punya sinyal kuat untuk memperhatikan kembali dua emiten bank yang sempat "terlupakan".
Baca Juga
Komentar