Lo Kheng Hong & Haiyanto Borong Saham, Strategi Smart Money Kuasai Pasar Modal
Pena Insight
Jakarta, 4 Agustus 2025 – Dua investor individu terkemuka Indonesia, Lo Kheng Hong dan Haiyanto, secara mengagetkan memborong saham besar-besaran pada sesi perdagangan akhir Juli 2025. Aksi mereka terekam dalam data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang diungkap pada Senin (4/8).
Menurut laporan, pembelian dilakukan secara diam-diam dan masif, mencakup portofolio saham seperti ABMM, ELSA, dan emiten lainnya di lantai bursa. Model aksi ini mencerminkan pembelian investor nilai yang strategis.
Fenomena ini memperkuat posisi Lo Kheng Hong Cs sebagai dominan di pasar modal. Investor berusia di atas 60 tahun, termasuk mereka, saat ini menguasai 53% dari seluruh kapitalisasi pasar individu di BEI senilai Rp986,28 triliun.
Aksi Lo dan Haiyanto memperlihatkan bahwa di tengah koreksi IHSG dan ketidakpastian makro, investor kelas kakap tetap solid dalam strategi akumulasi. Mereka memanfaatkan konsolidasi harga untuk melakukan akumulasi pada saham-saham undervalued.
Lo Kheng Hong sendiri dikenal telah memborong ribuan lembar saham seperti ABMM dan GJTL sejak awal 2025, menjadikannya salah satu pemegang saham terbesar di sejumlah emiten nasional.
Meski tak dijelaskan jumlah akumulasi pastinya, pergerakan ini dipandang sebagai sinyal bahwa para elite investor memulai akumulasi kembali setelah IHSG terkoreksi lebih dari 3% dalam dua minggu terakhir.
Menurut analis pasar modal, aksi ini bisa jadi mencerminkan "smart money flow" yang mulai masuk ke saham-saham yang dipinggirkan investor ritel. Efek psikologisnya bisa memicu tren rebound pada minggu-minggu mendatang.
Risiko tetap mengintai: volatilitas IHSG, arah suku bunga global, dan ketidakpastian politik bisa membuat momentum ini tetap rentan. Namun kombinasi reputasi dan pengalaman Lo dan Haiyanto menghadirkan keyakinan lebih kuat.
Bagi investor ritel, ini merupakan sinyal penting: memburu saham yang mereka bidik bisa jadi strategi jangka panjang, namun tetap disarankan memilih saham dengan valuasi rendah, prospek laba positif, dan fundamental kuat.
Secara menyeluruh, pembelian kompak oleh dua investor legendaris ini kembali menegaskan posisi kelas elite investor sebagai penentu tren di pasar modal Indonesia, serta menandai musim akumulasi saham potensial menjelang rilis laporan keuangan paruh kedua 2025.
Baca Juga
Komentar