Kasus Keracunan Massal di NTT, BGN Minta Maaf dan Janji Tanggung Jawab Penuh atas Program MBG
Pena Insight
Kupang, 31 Juli 2025 — Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat suara dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kasus keracunan massal yang terjadi akibat konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden serius ini mencoreng salah satu program unggulan nasional yang bertujuan meningkatkan gizi pelajar Indonesia.
Menurut pernyataan resmi dari Staf Khusus Kepala BGN bidang Komunikasi, Redy Hendra Gunawan, pihaknya menyatakan keprihatinan mendalam dan bertanggung jawab penuh atas biaya perawatan seluruh korban. Ia juga menegaskan bahwa evaluasi total terhadap rantai distribusi dan pengawasan makanan akan segera dilakukan.
Kejadian keracunan pertama tercatat di SMP Negeri 8 Kota Kupang, pada Selasa (29/7/2025), yang mengakibatkan 130 siswa mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan pusing. Selain itu, 13 murid SD Negeri Tenau Kota Kupang dan 2 siswa SMA Negeri 1 Taebenu, Kabupaten Kupang, turut menjadi korban. Tak hanya itu, sebanyak 75 siswa dari SMA dan SMK di Kabupaten Sumba Barat Daya juga dilaporkan mengalami gejala serupa dan harus dilarikan ke fasilitas medis.
Insiden ini langsung memicu perhatian luas dari masyarakat, terutama para orang tua murid yang mempertanyakan keamanan dan standar kebersihan makanan dalam program MBG. Tagar seperti #KeracunanMBG dan #GiziAmanUntukAnak ramai diperbincangkan di media sosial, dengan banyak warganet menuntut transparansi dan akuntabilitas dari penyelenggara.
BGN menyebut telah mengirim tim investigasi ke lokasi untuk melakukan penelusuran terhadap asal bahan makanan, proses pengolahan, dan distribusi. “Kami tidak akan menoleransi kelalaian pihak manapun, baik vendor penyedia makanan maupun pengawas lapangan,” ujar Redy.
Pihak Dinas Kesehatan Provinsi NTT juga telah turun tangan dan melakukan pengujian laboratorium terhadap sisa makanan yang dikonsumsi siswa. Hasil awal menunjukkan adanya dugaan kontaminasi mikroba dalam salah satu menu yang dikirim oleh pihak penyedia katering lokal.
Sementara itu, pemerintah pusat menyatakan akan mengkaji ulang prosedur quality control dalam pelaksanaan Program MBG, khususnya di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan pengawasan lapangan. Hal ini dinilai penting agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan dalam program makanan sekolah, bahwa meski tujuan program mulia, pelaksanaannya tetap harus mengedepankan standar keamanan pangan yang ketat dan pengawasan berjenjang.
Meski telah menyatakan permintaan maaf dan janji pertanggungjawaban, publik kini menunggu tindak lanjut konkret dari BGN dan instansi terkait, termasuk kemungkinan sanksi hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti lalai.
Baca Juga
Komentar