IHSG Anjlok 1,28%, Rupiah Melemah ke Rp16.715 per Dolar
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (25/9) di zona merah. IHSG terkoreksi 1,28% atau turun 104 poin ke level 8.061, setelah bergerak fluktuatif dengan rentang harian di 7.922–8.146.
Koreksi IHSG hari ini sebagian besar dipicu oleh tekanan jual di saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan pertambangan. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah reli indeks pada pekan lalu.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tertekan 1,92% ke Rp4.090, sementara Bank Central Asia (BBCA) turun 0,64% ke Rp10.825. Kedua saham ini memberi kontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG mengingat bobotnya yang besar dalam indeks.
Dari sektor pertambangan, tekanan lebih dalam terlihat pada saham-saham berbasis logam dan energi. MDKA merosot 8,77%, ANTM anjlok 8,07%, serta EMAS turun 9,07%. Koreksi harga komoditas dunia, terutama emas dan nikel, memperburuk sentimen di sektor ini.
Meski demikian, pergerakan tidak seragam di seluruh sektor. Beberapa saham konsumer dan teknologi justru mencatatkan kenaikan. ICBP menguat 1,18%, HMSP melonjak 5,06%, dan GOTO naik 4%. Saham KOIN bahkan melesat 10%, menjadi salah satu top gainer hari ini.
Nilai tukar rupiah juga menjadi sorotan. Rupiah ditutup melemah ke level Rp16.715 per dolar AS, menyentuh titik terendah sejak April 2025. Tekanan ini sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap sikap The Federal Reserve (The Fed) yang masih hawkish dalam menjaga suku bunga tinggi lebih lama.
Melemahnya rupiah memberi tekanan tambahan bagi IHSG, karena berpotensi meningkatkan biaya impor serta memicu kekhawatiran terhadap inflasi dalam negeri.
Secara eksternal, pasar global tengah menunggu keputusan The Fed terkait arah suku bunga. Meskipun inflasi di Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi, The Fed belum memberikan sinyal pasti mengenai potensi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Selain itu, rencana Amerika Serikat untuk menurunkan tarif impor mobil dari Uni Eropa sempat memberi sentimen positif bagi pasar global. Namun, hal ini tidak cukup kuat untuk menahan tekanan jual di bursa domestik.
Dari dalam negeri, pemerintah melalui Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyebutkan bahwa kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2025 masih dalam tahap kajian. Pemerintah diperkirakan membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp14,24 triliun sehingga total belanja gaji ASN bisa mencapai Rp192,44 triliun per tahun.
Qodari menegaskan, ruang fiskal harus dihitung dengan cermat sebelum kebijakan tersebut dieksekusi. Ketidakpastian realisasi kebijakan ini turut memengaruhi persepsi investor terhadap daya tahan fiskal Indonesia.
Meski demikian, kabar positif datang dari lembaga pemeringkat Jepang, Japan Credit Rating (JCR), yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB+ dengan outlook stabil. Hal ini menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.
Harga komoditas turut memberi warna dalam pergerakan pasar. Minyak Brent turun tipis ke USD 69,13 per barel, sementara emas dunia melemah ke USD 3.742 per troy ounce setelah menguat tiga hari berturut-turut. Batu bara juga melanjutkan tren penurunan selama empat hari terakhir, memicu aksi jual di saham-saham terkait energi.
Di tengah tekanan IHSG, saham Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) justru melesat 6,48% ke Rp7.800. Penguatan saham ini ditopang rencana perusahaan menerbitkan obligasi dan sukuk sebesar Rp5,05 triliun yang mendapat respons positif dari pasar.
Sejumlah saham konstruksi juga mulai mencatatkan rebound seiring ekspektasi peningkatan belanja infrastruktur pemerintah pada kuartal IV. Hal ini membuka peluang bagi saham seperti PTPP dan WIKA untuk menjadi incaran investor jangka pendek.
Sejumlah analis menilai pelemahan IHSG kali ini lebih bersifat teknikal. “Pelemahan ke area 8.000 justru bisa dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, terutama pada saham-saham perbankan besar dan sektor konsumer,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Beberapa rekomendasi saham pilihan hari ini antara lain:
-
BBRI: Buy di area Rp3.800 dengan target Rp4.800.
-
PTPP: Buy di area Rp370 dengan target Rp470.
-
BRAND: Buy di area Rp8.400 dengan target Rp9.800.
-
TPI: Buy di area Rp7.400 dengan target Rp8.800.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan masih bergerak volatile dengan kecenderungan melemah, terutama bila rupiah terus tertekan. Namun, peluang rebound terbuka jika The Fed memberi sinyal dovish dalam waktu dekat.
Untuk jangka menengah, sektor konsumer, perbankan, dan konstruksi dinilai masih menjadi pilihan utama investor, mengingat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid dan fokus pemerintah pada penguatan daya beli masyarakat.
Dengan berbagai dinamika global dan domestik, investor disarankan untuk tetap selektif dan memperhatikan manajemen risiko. Diversifikasi portofolio ke saham-saham defensif dan emiten berfundamental kuat dapat menjadi strategi aman menghadapi gejolak pasar saat ini.
Baca Juga
Komentar