Harga Saham Bank Himbara Terus Terjun: Dana Triliunan Diguyur, Saham Big Bank Tetap Tak Bergairah
Jakarta —Sektor perbankan pelat merah kembali menjadi sorotan tajam. Saham-saham bank besar yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), dan BTN (BBTN) mengalami penurunan beruntun selama dua tahun terakhir. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan investor, terutama ketika kinerja keuangan mereka masih mencatatkan laba jumbo.
Dalam sebulan terakhir saja, harga saham BMRI tercatat turun hampir 9 persen, padahal bank ini baru saja melaporkan kinerja solid dengan laba bersih yang kembali menembus Rp 50 triliun per September 2025. Penurunan tersebut terjadi di tengah stabilitas makro ekonomi dan penyaluran kredit yang justru meningkat.
Investor publik dan pelaku pasar mulai mempertanyakan anomali ini. Pasalnya, meskipun dana besar bahkan disebut mencapai Rp 200 triliun terus digelontorkan oleh investor institusi, harga saham BUMN perbankan justru tak bergeming. Bukannya naik, indeks sektor keuangan justru ikut terseret turun.
Fenomena “diguyur dana tapi ambles” ini bukan kali pertama terjadi. Selama dua tahun terakhir, tren serupa terlihat di saham-saham Himbara lainnya. Bahkan BBRI, yang dikenal sebagai bank dengan fundamental paling kuat dan jaringan mikro terbesar, ikut tertekan di level harga yang stagnan sejak awal 2024.
Menurut data perdagangan Bursa Efek Indonesia, kapitalisasi pasar gabungan empat bank Himbara telah menyusut lebih dari Rp 250 triliun sejak awal 2024. Angka ini menandakan keluarnya minat jangka panjang investor terhadap sektor yang dulu dianggap sebagai “benteng ekonomi nasional”.
Para analis menilai, ada faktor psikologis yang memengaruhi persepsi pasar. Investor dinilai kehilangan keyakinan karena ketergantungan pada kebijakan pemerintah dan tekanan dividen jumbo yang terus ditarik ke kas negara setiap tahun. “Pasar melihat BUMN perbankan lebih sebagai instrumen fiskal daripada entitas bisnis yang efisien,” ujar analis saham senior dari Infovesta, Ahmad Ramli, Selasa (15/10).
Selain tekanan dividen, isu efisiensi digital dan disrupsi layanan keuangan non-bank juga memperparah tekanan. Perusahaan fintech dan platform digital kini mengambil sebagian besar pasar kredit konsumtif dan pembayaran mikro, yang selama ini menjadi andalan Himbara.
Kinerja harga saham yang terus turun juga berdampak langsung pada portofolio investor institusi, termasuk dana pensiun dan reksa dana BUMN. Beberapa manajer investasi bahkan mengaku kesulitan mencapai target return karena koreksi panjang sektor perbankan.
Di sisi lain, fundamental bank-bank tersebut sebenarnya tidak bermasalah. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di bawah 2 persen, CAR masih kuat di atas 20 persen, dan laba bersih tumbuh stabil. Namun, investor ritel tampaknya mulai kehilangan minat karena stagnasi harga yang terlalu lama.
Beberapa pengamat menyebut fenomena ini sebagai tanda “kehilangan momentum kepercayaan”. Publik melihat Himbara sebagai simbol ekonomi yang tidak efisien, di mana keuntungan besar hanya berujung pada penarikan dividen dan bukan pada peningkatan nilai saham bagi pemegangnya.
Sementara itu, saham BMRI yang sempat menjadi primadona investor asing, kini justru menunjukkan tren distribusi besar-besaran. Beberapa laporan transaksi harian menunjukkan aksi jual oleh investor institusi luar negeri meningkat sejak awal kuartal IV 2025.
Ironisnya, ketika likuiditas pasar tinggi dan pemerintah menyalurkan stimulus serta dana jumbo ke perbankan, pasar modal justru menunjukkan arah sebaliknya. “Logika investornya tak masuk akal seolah uang ratusan triliun hanya menguap tanpa efek ke harga saham,” ujar seorang pelaku pasar di kawasan Sudirman.
Penurunan harga saham juga mencerminkan perubahan persepsi terhadap sektor BUMN keuangan yang kini dianggap terlalu dikontrol negara. Campur tangan kebijakan dalam penetapan suku bunga kredit, restrukturisasi pinjaman, dan target inklusi keuangan menekan potensi keuntungan jangka panjang.
Meski begitu, beberapa analis tetap melihat peluang rebound terbatas. Harga saham BMRI dan BBRI dinilai sudah undervalued dibanding kinerja fundamentalnya, dengan rasio PBV di bawah 2 kali. Namun tanpa reformasi struktural dan kejelasan arah kebijakan dividen, reli besar tampaknya masih jauh dari kenyataan.
Investor ritel di forum saham pun ramai membicarakan fenomena ini. Sebagian menyindir bahwa “saham bank pelat merah kini bukan tempat mencari cuan, tapi tempat menunggu keajaiban”.
Kondisi ini menempatkan Kementerian BUMN dalam posisi dilematis: antara menjaga stabilitas ekonomi nasional atau mengembalikan daya tarik investasi di sektor perbankan negara. Jika kepercayaan pasar tak segera dipulihkan, sektor Himbara bisa kehilangan statusnya sebagai motor penggerak IHSG.
Hingga perdagangan Rabu (15/10), saham BMRI ditutup melemah di level Rp 6.050, sementara BBRI stagnan di Rp 4.700, BBNI turun ke Rp 4.800, dan BBTN berada di Rp 1.450. Kapitalisasi pasar empat bank pelat merah kini hanya tinggal setengah dari nilai puncaknya dua tahun lalu.
Pasar kini menunggu langkah tegas pemerintah apakah akan membiarkan saham bank BUMN terus merosot, atau mulai memulihkan kepercayaan dengan reformasi nyata yang bisa mengembalikan gairah investor ke sektor keuangan nasional.
Baca Juga
Komentar