Harga Emas Sentuh Rekor Baru: Pasar Bersiap Sambut Keputusan The Fed
Jakarta – Harga emas dunia kembali menorehkan sejarah dengan menembus rekor tertinggi sepanjang masa di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Reli ini terjadi seiring pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah, yang membuat logam mulia kian seksi di mata investor global.
Berdasarkan data Reuters, harga emas di pasar spot sempat menyentuh level US$3.685,39 per troy ounce pada perdagangan Senin waktu AS, sebelum akhirnya terkoreksi tipis ke US$3.678,85 pada Selasa (16/9/2025) pukul 05.37 WIB.
Untuk kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember, harga justru naik 0,8% menjadi US$3.719,00, menandai momentum bullish yang masih kuat. Sepanjang pekan lalu, logam mulia menguat sekitar 1,6%.
Faktor pendorong utama reli emas kali ini adalah melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,3%, yang membuat harga emas lebih murah bagi investor dengan mata uang lain. Selain itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga turun, menandakan pasar tengah mengantisipasi langkah dovish dari Federal Reserve.
Pasar hampir bulat memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (17/9/2025) waktu setempat. Ini akan menjadi pemangkasan pertama sejak Desember tahun lalu.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai peluang langkah yang lebih agresif tetap terbuka, termasuk kemungkinan pemangkasan 50 basis poin sekaligus, menurut data CME FedWatch Tool.
Peter Grant, Vice President sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyebut momentum kenaikan harga emas belum selesai.
“Target kenaikan berikutnya berada di US$3.700, lalu US$3.730 dan US$3.743 dalam jangka pendek. Emas tetap menjadi pilihan utama lindung nilai di tengah ketidakpastian,” jelasnya.
Situasi semakin menarik karena The Fed kini berada di bawah sorotan politik. Presiden Donald Trump disebut mendorong pengaruh yang lebih besar terhadap kebijakan moneter, sementara Senat AS mempertimbangkan nama Stephen Miran, penasihat ekonomi Trump, untuk masuk komite penentu suku bunga tepat sebelum rapat.
Tekanan politik ini menambah ketidakpastian pasar. Keputusan The Fed Rabu besok bukan hanya soal angka suku bunga, tetapi juga sinyal arah kebijakan hingga akhir tahun.
Selain faktor domestik AS, laporan akhir pekan yang menyebut China berencana melonggarkan aturan ekspor dan impor emas ikut memicu aksi beli besar-besaran. Kebijakan ini dipandang akan mendorong permintaan fisik emas baik oleh sektor resmi maupun swasta.
Tai Wong, trader logam independen, menyebut fenomena ini sebagai “resep sempurna” bagi reli emas.
“Permintaan meningkat, pasokan ketat, suku bunga berpotensi turun. Semua elemen mendukung reli harga,” ungkapnya.
Data inflasi konsumen AS pada Agustus yang naik tercepat dalam tujuh bulan terakhir juga menjadi alasan kuat The Fed memangkas suku bunga untuk menjaga daya beli.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, sehingga kebijakan moneter yang lebih longgar dianggap penting untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Tak hanya emas, logam mulia lain ikut bergairah. Harga perak naik 1,1% menjadi US$42,62 per troy ounce, sementara platinum menguat 0,7% ke US$1.400,77. Sebaliknya, paladium sedikit terkoreksi 0,3% ke US$1.193,21.
Investor kini menahan napas menunggu kepastian. Jika The Fed benar memangkas suku bunga, reli emas bisa berlanjut menembus level psikologis US$3.700 dan berpotensi mencetak rekor baru dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga
Komentar