Harga Emas Pecah Rekor Dunia, Sentuh US$4.161 per Ons
JAKARTA — Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta sentimen positif dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.
Pada perdagangan Selasa (14/10/2025) waktu New York, harga emas spot naik 0,75% ke US$4.140,97 per ons, sementara emas berjangka AS menguat 0,77% ke level US$4.140,20 per ons. Lonjakan ini menandai reli delapan minggu berturut-turut, sebuah momentum terpanjang sejak 2011.
Hingga Rabu pagi, 15 Oktober 2025 pukul 05.21 WIB, harga emas di pasar spot terus menanjak ke US$4.161,52 per ons, naik 0,45% atau US$18,5 dibanding sesi sebelumnya.
Reli emas ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global.
Analis dari Goldman Sachs memperingatkan, meski tren kenaikan masih kuat, pasar logam mulia bisa menghadapi risiko koreksi jika arus investasi melambat. Namun, mereka menilai fundamental pasar tetap solid, terutama karena pembelian masif oleh bank sentral dunia dan meningkatnya kepemilikan reksa dana berbasis emas.
“Sepertinya tidak ada alasan kuat untuk melawan tren emas dan perak,” ujar Shyam Devani, investor asal Singapura, dikutip dari Bloomberg. Ia menambahkan bahwa posisi fiskal global yang lemah dan kebijakan moneter yang tidak pasti akan terus mendorong harga logam mulia naik.
Empat logam utama emas, perak, platinum, dan paladium telah melonjak antara 57% hingga 82% sepanjang 2025, menandai fenomena yang disebut pasar sebagai “demam logam mulia” global.
Sementara itu, Reuters melaporkan bursa saham AS kehilangan tenaga menjelang akhir perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal akan mengakhiri sebagian hubungan dagang dengan Tiongkok.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup di zona negatif, masing-masing turun 0,16% ke 6.644,31 dan melemah 0,76% ke 22.521,70. Sedangkan Dow Jones Industrial Average justru naik 0,44% ke 46.270,46.
Dalam pidatonya, Ketua The Fed Jerome Powell menilai ekonomi AS masih tumbuh lebih kuat dari perkiraan, namun menegaskan tidak ada kebijakan moneter tanpa risiko di tengah ketegangan antara inflasi dan ketenagakerjaan.
Sementara laporan terbaru dari IMF memperkuat nada optimistis dengan menaikkan proyeksi pertumbuhan global tahun ini. Namun IMF tetap mengingatkan bahwa eskalasi perang dagang AS–China berpotensi memangkas output global secara signifikan.
“Pasar kini mendengarkan dua hal sekaligus retorika perang dagang dan fundamental ekonomi,” ujar Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities, New York.
Harga minyak mentah AS (WTI) turut terkoreksi 1,33% ke US$58,70 per barel, sedangkan Brent turun 1,47% menjadi US$62,39 per barel.
Di pasar valuta, dolar AS melemah 0,26% ke 99,04, sementara euro menguat 0,31% ke US$1,1604, dan yen Jepang menguat 0,37% ke 151,71 per dolar AS. Penguatan franc Swiss dan yen mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Musim laporan keuangan kuartal ketiga di Wall Street juga dimulai positif, ditopang hasil kuat dari JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo. “Jika kinerja perbankan menjadi indikator, musim laporan kali ini berpotensi solid dan memberi ruang bagi pasar untuk stabil,” tambah Cardillo.
Sementara di Eropa, indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,37% dan FTSEurofirst 300 melemah 0,33%, mengikuti jejak koreksi di Asia dan AS. Indeks MSCI Global terkoreksi 0,25% ke 978,64.
Ketegangan dagang AS–China semakin memanas setelah Beijing memperketat kontrol ekspor tanah jarang, sementara Washington berencana menaikkan tarif impor hingga tiga digit. Kondisi ini membuat pasar global memasuki periode ketidakpastian ekonomi paling tajam dalam lima tahun terakhir.
Baca Juga
Komentar