Harga Emas Dunia Sentuh Rekor Baru, Ketidakpastian Shutdown AS Jadi Pemicu Utama
Jakarta - Harga emas dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Selasa (30/9/2025). Logam mulia ini bahkan sempat menembus level tertinggi sepanjang sejarah, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas potensi penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot (XAU/USD) naik 0,64 persen menjadi USD3.858,45 per troy ons. Pada sesi sebelumnya, emas sempat menyentuh level rekor baru di USD3.871,45 per troy ons sebelum sedikit terkoreksi.
Lonjakan harga emas kali ini tidak terlepas dari kombinasi faktor eksternal. Selain isu kebuntuan politik di Washington yang mengancam kelanjutan anggaran negara, data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan juga memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuannya.
“Emas kembali membuktikan daya tahannya. Bahkan setelah rilis data JOLTs yang mengecewakan, harga mampu rebound cepat dan mencetak rekor baru. Situasi ini menunjukkan investor mencari lindung nilai di tengah ketidakpastian,” ujar analis logam mulia independen, Tai Wong, dikutip Reuters.
Data terbaru memang menunjukkan lowongan kerja di AS hanya bertambah tipis pada Agustus, sedangkan angka perekrutan justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut memberi sinyal melemahnya pasar tenaga kerja, yang bisa membuka jalan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga lebih cepat.
Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed bulan Oktober kini diperkirakan mencapai 97 persen. Ekspektasi ini semakin memperkuat daya tarik emas, mengingat logam mulia tidak menawarkan imbal hasil bunga sehingga lebih diminati saat suku bunga rendah.
Sepanjang September 2025, harga emas sudah naik sekitar 11,5 persen. Kenaikan ini menandai performa bulanan terbaik sejak Agustus 2011. Jika dihitung sejak awal kuartal, kenaikan emas bahkan mencapai 16,4 persen.
Sementara itu, ancaman shutdown di AS kian nyata. Perbedaan tajam antara Partai Republik dan Demokrat dalam pembahasan anggaran membuat kesepakatan diperkirakan sulit tercapai sebelum batas waktu tengah malam.
“Jika penutupan pemerintahan berlangsung lama, dampaknya terhadap ekonomi AS akan cukup signifikan. Hal ini bisa mempercepat langkah The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, yang pada akhirnya menjadi katalis positif bagi emas,” kata Bart Melek, analis TD Securities.
Shutdown bukan hanya berdampak pada pelayanan publik, tetapi juga akan menghentikan sementara publikasi data ekonomi penting. Departemen Tenaga Kerja AS bahkan menyatakan laporan ketenagakerjaan bulanan. salah satu indikator utama kebijakan moneter yg tidak akan dirilis jika penutupan benar-benar terjadi.
Investor global memandang kondisi ini sebagai risiko tambahan terhadap stabilitas pasar. Emas, yang kerap dijuluki safe haven, otomatis menjadi pilihan utama untuk melindungi aset.
Tak hanya investor ritel, sejumlah manajer investasi institusional juga dilaporkan memperbesar porsi kepemilikan emas dalam portofolionya. Mereka melihat tren bullish masih akan berlanjut, setidaknya hingga ketidakpastian politik dan ekonomi di AS mereda.
Analis juga menyoroti faktor teknikal yang semakin memperkuat reli emas. Menurut mereka, level USD3.900 per troy ons kini menjadi target psikologis selanjutnya yang bisa segera diuji apabila tensi politik di Washington makin panas.
Meski begitu, beberapa pelaku pasar tetap mengingatkan agar investor berhati-hati. Volatilitas tinggi bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika Kongres AS berhasil mencapai kesepakatan anggaran mendadak atau The Fed memberikan sinyal berbeda terkait arah kebijakan moneter.
Untuk saat ini, logam mulia masih memegang kendali penuh di pasar komoditas global. Dengan ketidakpastian yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, banyak pihak memperkirakan harga emas berpotensi memperbarui rekor lagi dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga
Komentar