Fogging Bukan Sekadar Asap! Sinergi Polisi dan Puskesmas Bekasi Perangi DBD di Kampung Padat Penduduk
Pena Insight
Kota Bekasi, 1 Agustus 2025 — Ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi momok serius bagi warga kota, terutama di kawasan padat seperti Kampung Buaran, Kelurahan Harapan Mulya, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Menyikapi hal tersebut, sinergi antara Bhabinkamtibmas dan Puskesmas kembali menjadi ujung tombak pencegahan melalui kegiatan fogging yang dilakukan pada Kamis pagi (31/7).

Penyemprotan dimulai sejak pukul 10.00 WIB dan menyasar area RW 01 yang dikenal memiliki kepadatan pemukiman cukup tinggi. Lingkungan seperti ini sangat rawan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD. Oleh karena itu, upaya preventif melalui fogging menjadi langkah awal yang strategis.
Bripka Yophi Prima, S.H., selaku Bhabinkamtibmas Kelurahan Harapan Mulya, turut mendampingi proses fogging dari awal hingga selesai. Ia menegaskan bahwa keterlibatan Polri dalam kegiatan ini bukan hanya aspek pengamanan, tapi juga membangun kesadaran warga tentang pentingnya kebersihan lingkungan sebagai benteng utama melawan DBD.
"Kami hadir bukan hanya untuk mendampingi, tetapi juga mengedukasi. Fogging adalah langkah darurat, namun pencegahan sejatinya dimulai dari rumah masing-masing," tegas Bripka Yophi saat berbincang dengan warga. Ia juga mendorong warga untuk aktif dalam gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua RW 01 serta tim medis dari Puskesmas Harapan Mulya. Kerja sama lintas sektor ini dinilai penting dalam membangun ketahanan kesehatan berbasis komunitas. Antusiasme warga pun terlihat, beberapa bahkan turut membantu tim saat penyemprotan dilakukan.
Penyakit DBD masih menjadi penyakit endemis yang kerap muncul terutama saat musim penghujan. Berdasarkan data Dinkes, wilayah-wilayah padat penduduk seperti Medan Satria termasuk dalam zona rawan, sehingga intervensi seperti fogging dan edukasi menjadi sangat penting untuk menekan angka kasus.
Namun demikian, para pakar kesehatan tetap mengingatkan bahwa fogging hanyalah solusi jangka pendek. Tanpa upaya menyeluruh dari masyarakat, seperti menguras tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas, siklus nyamuk tetap akan berulang. Ini adalah tantangan yang harus disadari bersama.
Kegiatan seperti ini mencerminkan pola kerja kolaboratif antara aparat negara dan masyarakat sipil. Polri tak lagi hanya hadir dalam situasi kriminalitas, tetapi juga dalam aspek-aspek non-kamtipmas seperti kesehatan publik. Inilah bentuk polisi humanis yang membaur, bukan sekadar mengatur.
Diharapkan kegiatan fogging ini bukan menjadi aksi simbolik sesaat, tetapi terus berlanjut secara berkala dengan dukungan semua pihak. Tanpa kepedulian bersama, penyakit seperti DBD akan terus menjadi ancaman nyata di lingkungan padat kota-kota besar seperti Bekasi.
Baca Juga
Komentar