Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat Jadi 4,8% di Kuartal II-2025, Konsumsi dan Investasi Tertekan, Belanja Negara Jadi Penopang
Pena Insight
Jakarta, 5 Agustus 2025 — Konsensus Bloomberg yang melibatkan 27 ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 hanya mencapai 4,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika prediksi ini terealisasi, maka akan terjadi perlambatan dibanding kuartal sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 4,87% yoy.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Mast Henderson, menyebut perlambatan ini disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi, yang masih dibayangi ketidakpastian global, termasuk kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat.
“Dunia usaha cenderung menahan ekspansi, sementara rumah tangga bersikap lebih konservatif dalam membelanjakan uangnya,” ujar Tamara. Meski demikian, ekspor diperkirakan menunjukkan perbaikan karena perusahaan-perusahaan mempercepat pengiriman ke AS sebelum tarif tambahan diberlakukan.
Di sisi domestik, pemerintah Indonesia terus menggenjot belanja sosial dan stimulus fiskal, termasuk program Makan Bergizi Gratis, yang menjadi bagian dari agenda prioritas pemerintahan tahun ini. Namun, menurut Henderson, stimulus ini masih belum cukup untuk mengimbangi tekanan pada sisi konsumsi dan investasi.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4,78% yoy pada kuartal II-2025, sejalan dengan konsensus pasar. Ia menyoroti bahwa belanja pemerintah akan menjadi kunci penopang pertumbuhan dalam periode ini.
“Pembukaan blokir anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L), setelah sebelumnya ditahan karena efisiensi atau realokasi, akan memberikan dorongan signifikan terhadap investasi dan belanja modal,” kata Josua.
Faktor musiman seperti periode libur nasional yang panjang dan pencairan gaji ke-13 untuk ASN juga diprediksi akan meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya mendukung konsumsi rumah tangga, penyumbang terbesar PDB nasional.
Josua juga menambahkan bahwa peluang peningkatan investasi terbuka lebih besar karena tensi perang dagang global mulai menurun, menciptakan ruang lebih luas bagi arus masuk modal ke sektor produktif di dalam negeri.
Kendati demikian, baik Bloomberg maupun Bank Permata menekankan bahwa risiko global tetap tinggi, termasuk dampak lanjutan dari ketidakpastian geopolitik dan pergerakan suku bunga acuan global yang masih fluktuatif.
Dengan tantangan yang kompleks di paruh pertama 2025, Indonesia perlu mengoptimalkan sinergi fiskal dan moneter, mempercepat realisasi anggaran, serta terus mendorong iklim investasi agar pemulihan ekonomi tetap berada di jalur positif hingga akhir tahun.
Baca Juga
Komentar