Efek Hashim Djojohadikusumo? Saham WIFI dan INET Mulai Bergerak di Awal 2026
JAKARTA – Sentimen pasar modal di awal 2026 kembali memunculkan sorotan terhadap saham-saham sektor digital, khususnya PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Kedua emiten ini menarik perhatian investor lantaran afiliasi korporasi dan kerja sama strategis yang mulai terlihat kuat.
Salah satu faktor yang membuat saham WIFI menjadi bahan perbincangan adalah kepemilikan signifikan oleh grup pengusaha Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto. Melalui perusahaan PT Investasi Sukses Bersama (ISB), ia telah menjadi pemegang saham mayoritas di Survei WIFI.
Dalam aksi korporasi yang tercatat pada 11 Agustus 2025, ISB membeli 30.095.800 lembar saham WIFI dengan harga sekitar Rp2.880 per lembar. Transaksi ini membuat porsi kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 54,22 persen dari total saham.
Aktivitas kepemilikan oleh kelompok perusahaan yang dikaitkan dengan tokoh nasional ini menjadi salah satu indikator bahwa pasar melihat sektor digital sebagai arena investasi jangka panjang, terutama di tengah percepatan adopsi layanan internet dan infrastruktur digital di Indonesia.
Saham WIFI sempat mencuri perhatian pasar pada tahun lalu ketika harganya melesat tajam di tengah optimisme investor terhadap prospek bisnis digital. Meski demikian, memang perlu kehati-hatian dalam membaca data fundamental sehingga keputusan investasi tetap rasional.
Selain WIFI, saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) juga menarik perhatian investor karena keterlibatannya dalam pengembangan infrastruktur internet nasional. INET fokus pada penyediaan konektivitas tinggi untuk penyelenggara layanan internet (ISP).
INET memiliki basis klien yang cukup besar dari ratusan ISP di Indonesia, yang menjadikannya pemain penting di sektor internet backbone dan data center. Langkah strategis INET menunjukkan bahwa perusahaan ini berpotensi menjadi tulang punggung tumbuhnya ekonomi digital domestik.
Kerja sama antara INET dan WIFI bukan sekadar isu pasar semata, tetapi terealisasi dalam beberapa kontrak konkret. INET tercatat mengantongi kontrak penjualan bandwidth internasional besar untuk menyediakan kapasitas jaringan kepada WIFI dengan jangka waktu panjang.
Selain itu, INET juga memanfaatkan infrastruktur backbone WIFI guna memperluas jangkauan layanan internet hingga puluhan juta rumah di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di Jawa Barat.
Kerja sama teknis ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan operasional antara jaringan yang dibangun kedua emiten, meskipun keduanya tetap berdiri sebagai entitas yang berbeda di bursa saham.
Bagi analis pasar, sinergi tersebut dinilai penting karena bisa meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat posisi kedua emiten sebagai pemain kunci di sektor digital yang berkembang pesat. Hal ini pun menjadi salah satu alasan beberapa investor institusional mulai melirik saham tersebut.
Namun, investor ritel tetap diimbau untuk berhati-hati. Sektor digital meski prospektif juga membawa risiko volatilitas yang tinggi, terutama ketika sentimen pasar berubah seiring perkembangan ekonomi global dan domestik.
Pergerakan harga saham saham seperti WIFI dan INET sering kali dipengaruhi oleh sentimen korporasi atau berita besar yang terkait dengan kepemilikan saham atau rencana ekspansi, bukan semata kinerja fundamental dalam jangka pendek.
Penguatan kepemilikan oleh entitas yang memiliki koneksi kuat ke tokoh nasional sering memicu spekulasi di pasar. Namun, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada pemahaman risiko, likuiditas perdagangan, dan prospek pendapatan emiten.
Bagi WIFI, rencana rights issue yang sebelumnya diumumkan sempat menjadi salah satu daya tarik pasar karena menunjukkan potensi penggalangan modal besar untuk ekspansi usaha.
Sementara itu, INET yang telah aktif sejak listing di bursa masih terus memperkuat posisi di sektor B2B internet dan layanan digital, serta mengembangkan fasilitas data center untuk mendukung pertumbuhan data dan trafik di dalam negeri.
Beberapa analis pasar memandang kedua saham ini tetap menarik untuk dicermati pada 2026, terutama bagi investor yang mencari ekspansi di sektor teknologi dan digital. Namun, strategi beli atau akumulasi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
Sentimen positif terhadap saham tersebut diharapkan dapat terus terjaga jika ada kemajuan nyata dalam pengembangan infrastruktur, peningkatan pendapatan, dan keterbukaan informasi emiten kepada publik.
Seiring meningkatnya kebutuhan layanan internet cepat dan layanan digital di masyarakat, kedua emiten ini berposisi di sektor yang berpotensi tumbuh dalam jangka menengah hingga panjang.
Akhirnya, meskipun terafiliasi dengan tokoh nasional dapat menjadi daya tarik tambahan, keputusan investasi yang bijak tetap harus memperhatikan data fundamental, prospek bisnis, serta kondisi makro ekonomi yang berlaku di pasar modal Indonesia.
Untuk tahun 2026, saham WIFI dan INET bisa menjadi pilihan menarik dalam portofolio sektor digital bagi investor yang memahami risiko dan peluang yang ada. Namun, kewaspadaan terhadap perubahan sentimen pasar tetap perlu menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga
Komentar