Driver Gojek Keluhkan Tarif Rendah dan Ancaman Offline Otomatis Sistem
Jakarta, 15 September 2025 – Keluhan keras kembali disuarakan oleh para driver Gojek terkait kebijakan tarif dan sistem aplikasi terbaru yang dianggap semakin memberatkan. Para pengemudi menilai tarif yang ditawarkan Gojek jauh lebih rendah dibandingkan pesaing utama, GrabCar, sementara aturan baru justru memperketat ruang gerak mitra.
Sejumlah pengemudi menyebut, aplikasi Gojek kini menghadirkan fitur offline otomatis yang langsung aktif ketika pengemudi melakukan pembatalan trip. Masalahnya, pembatalan tidak selalu disebabkan oleh pengemudi. Faktor seperti titik penjemputan yang sulit dijangkau, tarif yang terlalu rendah dibanding jarak tempuh, hingga ketidaksesuaian lokasi seringkali membuat driver memilih membatalkan.
Namun, ketika keputusan itu diambil, akun mereka langsung diubah ke status offline oleh sistem. Hal ini dinilai sebagai bentuk pemaksaan karena pengemudi pada akhirnya harus terus menerima order meskipun tarif tidak sepadan dengan biaya operasional.
“Status kami disebut mitra, tapi kenyataannya kami dipaksa terus narik. Begitu sekali cancel, langsung offline. Kalau benar mitra, harusnya saling menguntungkan, bukan justru merugikan,” ujar Karyo, salah satu pengemudi GoCar, saat ditemui di kawasan Jakarta Timur.
Driver menilai, kebijakan tersebut menyalahi prinsip kemitraan. Menurut mereka, hubungan mitra seharusnya didasarkan pada kesetaraan, bukan dominasi sepihak perusahaan. Dengan kondisi saat ini, posisi pengemudi semakin rentan, terutama karena mereka khawatir akun akan dinonaktifkan permanen bila dianggap sering membatalkan pesanan.
Selain soal kebijakan offline otomatis, isu tarif juga menjadi sorotan. Para pengemudi menilai tarif Gojek terlalu rendah bila dibandingkan dengan GrabCar. Perbedaan tarif ini memicu ketidakpuasan karena ongkos perjalanan tidak sebanding dengan biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, dan kebutuhan hidup harian.
Karyo mencontohkan, perjalanan dengan jarak sekitar 10 kilometer di Gojek hanya menghasilkan bayaran yang dianggap minim, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan platform pesaing. Padahal, dengan kondisi lalu lintas Jakarta yang padat, waktu tempuh bisa sangat lama dan biaya operasional meningkat.
“Kalau dihitung-hitung, kami tekor. Bensin mahal, servis kendaraan rutin, ditambah risiko di jalan. Sementara tarif yang masuk ke kami jauh dari layak,” tambahnya.
Situasi ini membuat sebagian pengemudi mempertanyakan keberpihakan perusahaan pada kesejahteraan mitranya. Mereka merasa perusahaan lebih mementingkan strategi harga murah untuk menarik pelanggan, tanpa memikirkan keberlanjutan hidup pengemudi.
Kebijakan tarif rendah yang dibarengi dengan aturan ketat juga dikhawatirkan akan menurunkan motivasi kerja para pengemudi. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berimbas pada kualitas layanan, karena pengemudi kehilangan insentif untuk menjaga profesionalisme di lapangan.
Pengamat transportasi daring menilai, fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan dalam model bisnis ride-hailing di Indonesia. Konsep “mitra” yang dijanjikan sejak awal belum sepenuhnya terwujud, karena praktik di lapangan menunjukkan adanya pola relasi yang lebih menyerupai hubungan pekerja dan pemberi kerja.
Jika Gojek tidak segera merespons keluhan pengemudi, potensi gesekan semakin besar. Selain bisa menurunkan loyalitas driver, hal ini juga berpotensi mengurangi kualitas pengalaman pelanggan. Pada akhirnya, kepercayaan publik terhadap perusahaan bisa ikut tergerus.
Bagi driver, isu ini bukan sekadar soal aplikasi atau fitur baru, tetapi menyangkut mata pencaharian utama mereka. Ribuan keluarga bergantung pada pendapatan harian dari sektor transportasi daring, sehingga perubahan kecil dalam sistem dapat berdampak besar.
Dalam konteks regulasi, pemerintah sebenarnya telah menekankan pentingnya perlindungan bagi para pengemudi transportasi daring. Namun, penerapan aturan di lapangan kerap tertinggal dibandingkan dinamika bisnis aplikasi.
Bagi Gojek, kritik keras ini seharusnya menjadi alarm. Dengan semakin ketatnya persaingan di industri transportasi daring, keberpihakan pada kesejahteraan mitra dapat menjadi faktor pembeda yang menentukan keberlanjutan bisnis.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Gojek belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan pengemudi mengenai tarif rendah dan kebijakan offline otomatis.
Baca Juga
Komentar