Djohan Emir Setijoso, Eks Presiden Komisaris BCA yang Akhiri Kiprah Panjang di Dunia Perbankan
JAKARTA — Sosok Djohan Emir Setijoso dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting di balik kesuksesan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Setelah lebih dari satu dekade berkiprah di jajaran komisaris, Djohan resmi mengundurkan diri dari jabatan Presiden Komisaris BCA pada Desember 2024, menandai akhir perjalanan panjangnya di dunia perbankan nasional.
Keputusan pengunduran diri Djohan disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 16 Desember 2024.
Sekretaris Perusahaan BCA, Raymon Yunarto, menyebut keputusan itu akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2025 untuk memperoleh persetujuan resmi.
“Pengunduran diri Bapak Djohan Emir Setijoso tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional perusahaan. Struktur dan sistem manajemen BCA tetap berjalan solid,” ujar Raymon.
Langkah Djohan menutup kiprahnya di BCA bertepatan dengan periode ketika bank tersebut menorehkan berbagai pencapaian internasional. Pada 2025, BCA dinobatkan sebagai Bank Terkuat di Indonesia oleh The Asian Banker (TAB) Global dan masuk dalam daftar World’s Best Companies 2025 versi TIME dan Statista.
Perjalanan Panjang di Dunia Perbankan
Lahir di Jakarta, 25 Juni 1941, Djohan menempuh pendidikan Sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lulus pada 1964. Meski berlatar belakang pertanian, ia memilih meniti karier di dunia keuangan dengan bergabung ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 1965.
Dalam rentang lebih dari tiga dekade di BRI, Djohan meniti karier dari posisi staf hingga menduduki jabatan Direktur. Setelah itu, ia sempat dipercaya sebagai Presiden Komisaris Inter Pacific Bank pada 1993–1998.
Puncak kariernya tiba ketika Djohan dipercaya memimpin BCA sebagai Presiden Direktur pada 1999–2011, masa krusial ketika industri perbankan Indonesia tengah berupaya pulih dari krisis ekonomi 1998.
Di bawah kepemimpinannya, BCA melakukan penataan struktur organisasi, memperkuat sistem manajemen risiko, serta menanamkan budaya perusahaan berbasis efisiensi dan transparansi. Ia juga dikenal tegas dalam memperkuat tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance).
“Beliau adalah figur dengan disiplin tinggi dan komitmen kuat terhadap tata kelola yang baik. Prinsip kehati-hatian dan integritas selalu menjadi pedoman di setiap keputusan strategisnya,” ujar seorang sumber internal BCA yang enggan disebutkan namanya.
Dari Direktur Utama ke Presiden Komisaris
Setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai Presiden Direktur, Djohan diangkat menjadi Presiden Komisaris BCA melalui RUPS Tahunan 2011 dan mendapat persetujuan Bank Indonesia pada 25 Agustus 2011.
Penugasan terakhirnya ditetapkan dalam RUPS 2016 dengan masa jabatan lima tahun.
Dalam kapasitasnya sebagai Presiden Komisaris, Djohan berperan mengawasi arah strategis dan menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham, nasabah, dan karyawan. Ia juga menjadi penasihat utama dalam berbagai kebijakan penting perusahaan.
Di bawah pengawasan Djohan, BCA terus menunjukkan kinerja positif dan reputasi kokoh sebagai bank swasta paling stabil di Indonesia.
Warisan Kepemimpinan dan Etika Profesional
Meski kini tidak lagi aktif di jajaran manajemen, jejak kepemimpinan Djohan Emir Setijoso masih menjadi bagian penting dari kultur BCA. Prinsip kehati-hatian, tata kelola transparan, dan fokus pada pelayanan pelanggan yang ia tanamkan menjadi pilar utama yang diwariskan kepada generasi penerus.
Kiprahnya mencerminkan perjalanan seorang bankir sejati yang berangkat dari dasar sistem perbankan nasional hingga mencapai posisi puncak dalam industri keuangan Indonesia.
Baca Juga
Komentar