DDS Bukan Formalitas, Sambang Bhabinkamtibmas Kotabaru Bukti Nyata Polisi Dekat dengan Rakyat
Pena Insight
Kota Bekasi, 29 Juli 2025 — Ketika keamanan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama, kehadiran polisi bukan lagi cukup hanya di balik meja atau saat patroli bersirene. Hal itu dibuktikan oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Kotabaru, Aiptu Kuzairi, yang secara langsung menyambangi warga RT 01 RW 14 Blok Nusa Indah, Kecamatan Bekasi Barat, Senin pagi. Lewat program Door to Door System (DDS), polisi menunjukkan bahwa menjaga Kamtibmas harus dimulai dari membangun kepercayaan dan kedekatan sosial.
Dimulai pukul 10.45 WIB, kegiatan sambang ini bukan sekadar rutinitas harian tanpa makna. Dialog langsung antara Aiptu Kuzairi dengan Ketua RW dan tokoh masyarakat lokal menciptakan ruang interaksi yang sehat dan solutif. Bukan hanya menyampaikan imbauan, ia mendengar langsung kekhawatiran warga tentang gangguan keamanan dan mengajak mereka aktif berpartisipasi dalam pencegahannya.
“Polisi bukan datang hanya saat masalah muncul,” ujar Aiptu Kuzairi lugas, “Kami ingin jadi bagian dari solusi, bukan sekadar penegak hukum.” Pernyataan ini menegaskan bahwa DDS adalah sarana untuk membangun kesadaran kolektif bahwa keamanan lingkungan bukan monopoli aparat, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Pesan-pesan kamtibmas disampaikan dengan pendekatan persuasif, bukan instruktif. Aiptu Kuzairi mengajak warga untuk tidak ragu melapor jika melihat aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka, sembari menumbuhkan kembali semangat gotong royong sebagai warisan sosial yang kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.
Kegiatan ini memperlihatkan transformasi pendekatan kepolisian yang kini lebih humanis dan berbasis partisipasi warga. Respons warga yang positif membuktikan bahwa pendekatan dialogis lebih efektif dalam membangun rasa aman dibandingkan pendekatan represif yang cenderung menciptakan jarak sosial.
Warga pun menyampaikan beberapa masukan terkait keamanan malam hari dan kebutuhan ronda terpadu. Aiptu Kuzairi mencatat dan langsung berkoordinasi dengan unsur RT/RW agar warga terlibat aktif dalam skema pengamanan lingkungan berbasis masyarakat.
Sambang ini berlangsung dalam suasana kekeluargaan, tanpa sekat antara petugas dan warga. Inilah bukti bahwa polisi bisa hadir sebagai rekan dialog, bukan sekadar penguasa wilayah hukum. Hal ini menjadi esensi dari program DDS yang sebenarnya: menjadikan polisi mitra strategis dalam menjaga keharmonisan lingkungan.
Namun penting juga diingat, konsistensi dalam pelaksanaan DDS di berbagai wilayah tetap menjadi tantangan. Apakah pendekatan ini akan menyeluruh di semua lini atau hanya berlangsung temporer saat sorotan publik hadir, masih menunggu pembuktian institusional dari Polri.
Jika ingin menjadikan sambang sebagai instrumen utama penguatan kamtibmas, maka setiap personel Bhabinkamtibmas harus dibekali kapasitas sosial dan empati yang cukup. Masyarakat bukan objek pengawasan, melainkan mitra sejati dalam membangun ruang hidup yang aman dan harmonis.
Baca Juga
Komentar