Dari Keamanan ke Ketahanan, Peran Aktif Bhabinkamtibmas Rawalumbu di Ladang Jagung Bojong Menteng
Pena Insight
Kota Bekasi, 28 Juli 2025 — Di tengah tantangan inflasi pangan dan krisis iklim global, langkah kecil di sudut Kota Bekasi menjadi simbol besar ketahanan pangan lokal. Bhabinkamtibmas Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, menunjukkan bahwa tugas polisi tak hanya soal menindak kriminalitas, tetapi juga bisa menyiram harapan di ladang pertanian. Pada Senin pagi, 28 Juli 2025, Bhabinkamtibmas secara aktif melakukan pemantauan dan penyiraman tanaman jagung bersama warga di lahan milik Bapak Sukri, Jalan Baru Cipendawa, RT 04 RW 04.
Lahan seluas 100 meter persegi itu kini dipenuhi tanaman jagung muda yang baru tumbuh sekitar 2 cm. Namun bukan tingginya yang jadi sorotan, melainkan kehadiran sosok aparat keamanan yang berseragam, ikut menyingsingkan lengan baju untuk menyiram tanaman. Tindakan ini bukan simbolik semata, tetapi bagian dari pendekatan baru Polri yang humanis dan proaktif dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Bukan pertama kali Polri terlibat dalam kegiatan sosial, namun pendekatan yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Rawalumbu ini menandai babak baru sinergi antara keamanan dan pembangunan. Kapolsek Rawalumbu, AKP Ririn Sri Damayanti, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen Polri dalam memperkuat interaksi sosial. “Kami ingin masyarakat melihat Polri sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar penegak hukum,” tegasnya.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan semangat Nawacita dan arahan Presiden dalam memperkuat ketahanan pangan dari bawah. Partisipasi aktif aparat dalam mendampingi petani bukan hanya menciptakan rasa aman, tetapi juga rasa memiliki terhadap proses pembangunan desa dan kota. Keberadaan polisi yang ikut terlibat langsung dalam proses pertanian bisa menjadi stimulus moral bagi warga lainnya.
Respons warga pun sangat positif. Beberapa warga sekitar bahkan menyatakan harapannya agar kegiatan serupa terus dilanjutkan dan diperluas, tidak hanya untuk jagung tetapi juga jenis tanaman pangan lainnya. Model partisipatif seperti ini patut menjadi contoh nasional, terutama di kawasan urban yang selama ini dianggap tidak lagi produktif secara pertanian.
Jika dikelola secara serius, inisiatif kecil ini bisa menjadi benih gerakan urban farming nasional yang didorong oleh kolaborasi antara aparat dan masyarakat. Lahan tidur bisa disulap menjadi lumbung pangan lokal. Apalagi, dengan estimasi panen dalam waktu sekitar 80 hari ke depan, hasilnya bukan hanya jagung, tapi juga rasa percaya masyarakat terhadap aparat.
Namun, penting juga untuk mengawal keberlanjutan dari program seperti ini. Jangan sampai hanya menjadi simbol PR atau agenda seremonial tahunan. Dibutuhkan konsistensi, pendampingan teknis, dan dukungan lintas sektor—termasuk dari Dinas Pertanian dan stakeholder lokal lainnya—agar tanaman jagung yang tumbuh ini tidak mati sebelum panen.
Dalam konteks krisis global saat ini, di mana isu pangan menjadi persoalan geopolitik, tindakan mikro seperti ini menyampaikan pesan makro: keamanan bukan hanya soal peluru dan borgol, tapi juga air dan cangkul. Ketika aparat turun ke ladang, rasa aman dan rasa kenyang bisa bertemu di titik yang sama.
Editorial ini mengajak aparat lain, tidak hanya di Bekasi, untuk mereplikasi pendekatan Rawalumbu: hadir bukan hanya ketika masalah terjadi, tapi juga ketika solusi ditanam. Karena masa depan negeri ini tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menjaga keamanan, tetapi juga siapa yang menanam harapan.
Baca Juga
Komentar