Danantara Suntik Garuda Indonesia: Ekuitas Balik Positif, Beban Utang Terpangkas Rp 30 Triliun!
Jakarta — Sinyal kebangkitan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali menguat setelah PT Danantara Asset Management (DAM) resmi disebut akan menyuntikkan modal segar senilai US$ 1,84 miliar atau setara Rp 30,31 triliun. Langkah ini dilakukan melalui mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) yang dinilai para analis akan memperbaiki fundamental keuangan maskapai pelat merah tersebut.
Analis menilai injeksi modal besar-besaran ini menjadi momentum penting bagi Garuda Indonesia untuk keluar dari tekanan finansial berkepanjangan dan kembali mencetak kinerja positif.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryana, menyebutkan bahwa suntikan modal dari Danantara akan membawa dampak signifikan terhadap posisi ekuitas Garuda Indonesia.
Menurutnya, setelah transaksi rampung, posisi ekuitas GIAA yang sebelumnya tercatat minus US$ 1,5 miliar per Juni 2025, diproyeksikan akan berbalik positif menjadi sekitar US$ 350 juta.
Selain memperkuat ekuitas, Liza menilai likuiditas dan solvabilitas Garuda juga akan meningkat drastis. Kas dan setara kas diperkirakan bertambah sekitar US$ 1,44 miliar, mendorong rasio lancar (current ratio) naik dari 0,44x menjadi 1,53x, serta menurunkan rasio utang terhadap aset (debt to asset) dari 123% menjadi 96%.
“Perseroan juga menargetkan modal kerja berbalik positif. Ini artinya ruang gerak operasional akan jauh lebih fleksibel,” ujarnya.
Selain itu, konversi Shareholder Loan (SHL) senilai US$ 405 juta menjadi ekuitas turut memperbaiki struktur modal Garuda. Dana SHL ini sebelumnya disalurkan bertahap sejak Juni hingga September 2025, dengan total mencapai Rp 6,65 triliun.
Liza menilai langkah konversi ini akan langsung menekan liabilitas berbunga, mengurangi beban bunga, dan memperbaiki arus kas perusahaan. “Dengan beban utang yang berkurang, fokus Garuda dapat kembali ke aspek pelayanan dan efisiensi,” tambahnya.
Perusahaan dikabarkan juga akan memusatkan strategi pada penguatan anak usaha Citilink serta peningkatan perawatan armada untuk memperbaiki utilisasi dan keandalan layanan.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan load factor dan yield, meskipun profitabilitas Garuda tetap sangat dipengaruhi oleh harga avtur, kurs rupiah, dan permintaan pasar.
“Utang GIAA akan berkurang signifikan, dan ekspansi bisnis bisa berjalan lebih lancar. Debt-to-equity ratio juga akan membaik lewat skema debt-to-equity swap dari SHL,” kata Liza.
Ia menilai peningkatan solvabilitas ini akan membuka ruang ekspansi jangka menengah, terutama dalam pembukaan rute baru dan peremajaan armada pesawat.
Namun, Liza mengingatkan bahwa pemulihan laba Garuda tetap sangat bergantung pada efisiensi operasional dan kondisi pasar global. “Eksekusi strategi menjadi faktor kunci keberhasilan restrukturisasi ini,” tegasnya.
Dari sisi pasar modal, ia menggarisbawahi bahwa aksi korporasi tersebut secara struktural akan berdampak positif bagi saham GIAA, meskipun risiko dilusi dan eksekusi tetap tinggi karena penerbitan saham baru.
Untuk itu, Liza menyarankan investor ritel menunggu kepastian hasil RUPSLB serta realisasi setoran kas dan konversi saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Investor juga diimbau untuk mencermati laporan keuangan pro-forma pasca transaksi, terutama terkait perbaikan indikator operasional seperti ketepatan waktu penerbangan, yield, dan rencana ekspansi armada maupun rute baru.
Berdasarkan data terakhir, Danantara tercatat sebagai pemegang saham terbesar Garuda Indonesia dengan kepemilikan 59,03 miliar saham atau setara 64,54% dari total saham beredar.
Sementara itu, pemerintah tetap bertindak sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan simbolis sebanyak 1 saham dwiwarna, yang memberikan hak kontrol strategis terhadap keputusan penting perusahaan.
Dengan struktur modal baru yang lebih sehat, Garuda Indonesia kini berada di jalur yang lebih pasti menuju pemulihan. Suntikan dana Danantara diyakini menjadi landasan penting bagi kembalinya “Garuda di Langit Biru” sebagai maskapai kebanggaan nasional.
Baca Juga
Komentar