ChatGPT Dianggap “Ngarang”, Pakar Intelijen Justru Perintahkan Mahasiswanya Gunakan AI
Pena Insight
JAKARTA, 10 Juli 2025 — Di tengah maraknya kritik terhadap fenomena hallucination ChatGPT yang disebut kerap "ngarang sendiri", pakar intelijen dan pertahanan nasional, Dr. Isroil Samihardjo, justru menyatakan bahwa manfaat AI seperti ChatGPT jauh lebih besar daripada kelemahannya. Sikap ini kontras dengan narasi negatif yang beredar luas, termasuk laporan dari CNBC Indonesia (8/7) yang menyoroti kebingungan penciptanya atas tingginya kepercayaan publik terhadap AI ini.
Dalam wawancara dengan Dr. Isro sapaan akrabnya menyampaikan bahwa sebagai pengguna intensif, ia menemukan enam aspek utama yang membuat ChatGPT tak tergantikan dalam pekerjaan strategis, mulai dari membantu merumuskan ide mentah, menyusun skenario strategis, hingga menjaga ritme kerja multitugas.
Menurut dosen SKSG Universitas Indonesia yang pernah bertugas di Kementerian Pertahanan dan BIN ini, ChatGPT mampu menjadi mitra kolaboratif yang reflektif dan adaptif, bahkan memicu lahirnya gagasan baru yang tak terpikir sebelumnya. Ia bahkan menyebut bahwa ChatGPT berkontribusi signifikan dalam proses foresight, forecasting, dan penyusunan analisis strategis nasional.
Meski mengakui adanya kelemahan struktural seperti ketidakakuratan fakta dan kesulitan mengenali variabel multidisipliner, Dr. Isro tetap menyatakan AI seperti ChatGPT tak bisa digantikan begitu saja. Ia bahkan mewajibkan mahasiswanya untuk memanfaatkan AI dalam tugas dan ujian, selama penggunaannya dilakukan secara kritis dan terverifikasi.
Dalam dokumen umpan balik resmi kepada OpenAI berjudul Enhancing ChatGPT for Deep, Reflective, and Long-Term Dialogue yang dikirim 19 Juni 2025 lalu, Dr. Isro menyampaikan sejumlah saran perbaikan. Ia mengusulkan fitur timestamp, threaded replies, dan mode reflektif agar ChatGPT mampu menangani percakapan panjang dan mendalam secara lebih manusiawi.
OpenAI sendiri merespons positif. Dalam email balasan resminya, mereka menyatakan: “Your input is truly appreciated and helps make ChatGPT better for everyone.” Ini mempertegas bahwa pengguna aktif seperti Dr. Isro berperan penting dalam membentuk masa depan interaksi manusia dan AI.
Lebih jauh, Dr. Isro menyoroti pentingnya menggunakan ChatGPT sebagai partner think tank dalam menghadapi isu-isu kompleks seperti terorisme, senjata biologi, hingga ancaman non-konvensional lain yang memerlukan pendekatan interdisipliner. Ia menyebut bahwa masalah seperti aktor tunggal (lone wolf) atau nonstate actors tidak akan terselesaikan hanya dengan narasi konvensional.
Mantan perwakilan Indonesia dalam berbagai sidang senjata pemusnah massal di Wina, Jenewa, dan New York ini juga menekankan bahwa AI tidak menggantikan manusia, tetapi memperkuat daya berpikir strategis jika digunakan dengan bijak. “ChatGPT bukan mesin kebenaran, tapi ia adalah alat kerja yang bisa mempercepat dan memperdalam proses berpikir,” ujarnya.
Refleksi dari sosok yang mengabdi di persimpangan sains, keamanan nasional, dan pendidikan ini menegaskan bahwa pemanfaatan AI seharusnya tidak direduksi hanya pada kekurangannya. Justru dengan pendekatan kolaboratif, seperti yang dilakukan Dr. Isro, kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari solusi nasional — bukan sekadar sumber kontroversi.
Baca Juga
Komentar