Chairul Tanjung Siap Tinggalkan Garuda: Private Placement Jumbo dan Taruhan Masa Depan Garuda Indonesia?
Jakarta — Drama kepemilikan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kembali memanas. Salah satu investor lama, Chairul Tanjung (CT), kini menghadapi dilema besar: tetap bertahan di maskapai pelat merah yang tengah bangkit atau justru mengambil momentum untuk keluar dengan strategi yang matang setelah aksi private placement jumbo senilai USD 1,84 miliar.
Kisah keterlibatan CT di GIAA bermula sejak IPO tahun 2012, ketika Trans Airways — perusahaan milik konglomerat Trans Corp — membeli 10,88 persen saham Garuda senilai USD 250 juta di harga sekitar Rp620 per saham. Saat itu, langkah CT dianggap sebagai penyelamatan karena underwriter IPO Garuda gagal menjual seluruh saham ke publik.
Namun perjalanan investasi CT di GIAA tidak semulus rencana awal. Setelah sempat menambah kepemilikan hingga 24,6 persen pada 2014, posisinya perlahan menyusut. Penurunan drastis terjadi setelah Trans Airways tidak mengeksekusi hak right issue tahun 2022, yang membuat kepemilikan CT merosot menjadi 7,79 persen. Kini, pasca-aksi private placement besar-besaran, porsi tersebut bisa kembali anjlok menjadi hanya 1,47 persen.
Menariknya, di balik dinamika ini muncul sosok Dony Oskaria, Direktur Utama PT Danantara Aset Management (Persero), pihak yang menjadi pemberi dana segar dalam aksi private placement GIAA. Dony bukan orang baru bagi CT — ia pernah menjabat sebagai Komisaris Garuda mewakili Trans Airways dan dikenal sebagai salah satu “orang kepercayaan” di lingkar bisnis CT Group.
Dony bahkan pernah bersama Chairal Tanjung, adik CT, menolak laporan keuangan GIAA tahun 2018 karena diduga terjadi rekayasa laporan laba. Kini, lewat Danantara, “orang CT” justru kembali masuk ke struktur penting penyelamatan keuangan Garuda — menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini strategi penyelamatan, takeover diam-diam, atau justru pintu keluar yang elegan bagi CT?
Private placement ini sendiri diperkirakan akan menerbitkan sekitar 407,89 miliar lembar saham baru dengan harga pelaksanaan sekitar Rp75 per saham, jauh di bawah harga IPO 2012. Dana segar yang masuk akan digunakan untuk mengonversi utang ke Danantara sekaligus memperkuat modal kerja anak usaha seperti Citilink.
Berdasarkan dokumen resmi, sekitar USD 405 juta pinjaman Danantara kepada GIAA akan dikonversi menjadi saham, sementara sisanya digunakan untuk menutup kebutuhan modal kerja, perawatan pesawat, dan peningkatan modal Citilink. Total dana masuk sekitar USD 1,84 miliar — cukup besar untuk membuat ekuitas GIAA kembali positif, setelah sebelumnya negatif USD 1,49 miliar per Juni 2025.
Namun, meski ekuitas bisa pulih, pekerjaan rumah GIAA masih jauh dari selesai. Beban keuangan masih menekan, sementara laba usaha semester I/2025 hanya USD 43 juta dibandingkan beban keuangan USD 251 juta. Artinya, posisi bottom line sebelum pajak masih merugi USD 162 juta, dan struktur profitabilitas belum cukup kuat untuk menopang utang jangka panjang yang direstrukturisasi.
Secara fundamental, ini berarti private placement hanya memberi napas baru sementara, bukan solusi permanen. Jika Garuda tidak mampu memperbaiki margin usaha dan efisiensi biaya, proyeksi ekuitas positif hanya akan bertahan 2–3 tahun sebelum kembali negatif.
Bagi CT, momentum ini bisa menjadi titik strategis untuk keluar. Dengan kepemilikan yang kian kecil dan potensi valuasi saham meningkat setelah ekuitas pulih, menjual sisa kepemilikan bisa menjadi keputusan logis, terutama jika dilihat dari perspektif “value recovery” dibanding “long-term control”.
Namun di sisi lain, koneksi antara Danantara dan lingkar bisnis CT menimbulkan spekulasi lain: apakah ini manuver untuk tetap mengendalikan GIAA dari balik layar, tanpa harus menanggung beban langsung sebagai pemegang saham besar?
Apa pun skenarionya, satu hal pasti — langkah CT di GIAA selalu sarat strategi. Dari “penyelamat” saat IPO hingga kini berpotensi menjadi “exit winner” lewat mekanisme korporasi yang canggih, perjalanan ini menjadi cermin kompleksitas hubungan antara bisnis, politik, dan penyelamatan BUMN strategis.
Kini, investor publik menanti dua hal: pertama, apakah ekuitas positif benar-benar menandai kebangkitan Garuda secara fundamental; dan kedua, apakah Chairul Tanjung akhirnya akan angkat kaki sepenuhnya dari GIAA atau tetap berperan di balik layar melalui jaringan Danantara.
Satu yang pasti — drama Garuda belum berakhir, dan langkah CT berikutnya akan menjadi babak penentu masa depan maskapai kebanggaan Indonesia ini.
Baca Juga
Komentar