Cakra Buana (CBRE) Kantongi Restu Akuisisi Kapal Hilong Group Senilai Rp1,6 Triliun
JAKARTA — PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) resmi mendapatkan restu dari para pemegang saham untuk melakukan akuisisi satu unit kapal pipe laying & lifting vessel milik Hilong Shipping Holding Limited.
Persetujuan itu diperoleh setelah perseroan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Oktober 2025.
Dalam aksi korporasi ini, CBRE akan memanfaatkan kas internal perusahaan serta tidak menutup kemungkinan menggunakan pinjaman pihak ketiga, termasuk dari lembaga perbankan.
Berdasarkan catatan Bisnis, nilai kapal yang akan diakuisisi CBRE tersebut mencapai US$100 juta atau setara Rp1,6 triliun dengan kurs Jisdor Rp16.622 per dolar AS.
Dalam keterangannya, manajemen CBRE menyampaikan bahwa rapat juga menyetujui rencana penerbitan promissory note kepada pihak ketiga, sebagai bagian dari skema pembayaran sebagian harga armada tersebut.
“RUPSLB menerima pembahasan atas laporan studi kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha perseroan yang dibuat oleh Kantor Jasa Penilai Publik Kusnanto & Rekan,” tulis manajemen CBRE dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/10/2025).
Langkah akuisisi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang CBRE untuk memperkuat lini bisnis di sektor maritim dan energi lepas pantai (offshore energy services).
Sebelumnya, berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 Oktober 2024, CBRE yang selama ini berfokus pada jasa pelayaran angkutan laut dalam negeri, berencana menambah kegiatan usaha di bidang jasa penunjang kegiatan lepas pantai.
Kapal pipe-laying and lifting vessel yang akan dibeli merupakan kapal produksi tahun 2012 asal Tiongkok, dan dimiliki oleh Hilong Shipping Holding Limited.
Dengan akuisisi ini, CBRE akan memperluas jangkauan bisnisnya ke layanan pemasangan pipa bawah laut (pipe laying) serta dukungan proyek pembangkit listrik tenaga laut (offshore wind farm support).
Selain itu, perusahaan juga menargetkan masuk ke sektor konstruksi dan infrastruktur energi lepas pantai, yang dinilai memiliki prospek cerah seiring meningkatnya investasi energi global.
Diversifikasi ini, menurut manajemen, didorong oleh permintaan tinggi terhadap infrastruktur energi laut, baik dari industri minyak dan gas (migas) maupun energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai (PLTA offshore).
CBRE menilai bahwa sektor ini memiliki margin keuntungan lebih besar dibanding layanan kargo tambang, sekaligus membuka peluang kemitraan dengan kontraktor EPC besar dan operator energi internasional.
Perseroan juga berencana memperluas area operasional yang sebelumnya hanya di perairan domestik menjadi mencakup wilayah internasional.
Manajemen berpendapat, langkah ekspansi ke luar negeri menjadi bagian penting untuk memanfaatkan potensi perdagangan maritim global yang semakin meningkat.
Sebagaimana diketahui, industri pelayaran saat ini menjadi tulang punggung perdagangan dunia, dengan lebih dari 90% komoditas global diangkut melalui jalur laut.
Kondisi tersebut menjadikan sektor pelayaran sebagai komponen vital dalam rantai pasok global, terutama dalam mendukung aktivitas ekspor-impor skala besar.
Dengan akuisisi kapal Hilong ini, CBRE berharap dapat memperkuat daya saing, meningkatkan kapasitas armada, serta memperluas basis pelanggan korporasi energi di dalam maupun luar negeri.
Langkah ini juga sekaligus menandai komitmen CBRE untuk bertransformasi dari perusahaan pelayaran nasional menjadi penyedia jasa energi maritim terpadu di kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga
Komentar