BRICS Percepat Mata Uang Berbasis Emas, Tantang Dominasi Dolar AS Mulai 2026
Pena Insight
Jakarta, 2 September 2025 — Negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) kian gencar mempercepat pengembangan mata uang bersama berbasis emas. Proyek ambisius ini diproyeksikan siap diluncurkan paling cepat pada 2026 dan digadang-gadang menjadi alternatif nyata terhadap dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan internasional.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan, inisiatif tersebut bukanlah upaya untuk “menggulingkan” dolar AS, melainkan menyediakan instrumen pembayaran yang lebih adil dan berimbang. “Alternatif yang sedang dibangun adalah sistem penyelesaian transaksi menggunakan mata uang nasional masing-masing anggota,” ujarnya dalam konferensi pers yang dikutip dari Watcher Guru.
Langkah strategis ini lahir dari keinginan kolektif BRICS untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi perdagangan. Dengan cadangan emas yang sangat besar di tiap negara anggota, mata uang baru ini diharapkan mampu menawarkan stabilitas nilai tukar sekaligus meningkatkan kepercayaan investor global.
Kerangka yang dibangun bukan hanya sekadar menciptakan mata uang tunggal. Proyek ini juga melibatkan pembangunan infrastruktur keuangan modern, termasuk sistem pembayaran lintas batas bernilai miliaran dolar yang saat ini tengah dirancang oleh Bank Pembangunan Baru BRICS. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov bahkan menyebut pusat pembayaran lintas batas sudah diformalkan untuk memperlancar mekanisme perdagangan.
Selain itu, Tiongkok melalui Sistem Pembayaran Antarbank Lintas Batas (CIPS) kini telah menghubungkan hampir 5.000 lembaga keuangan global. Dukungan teknologi blockchain yang mampu mempercepat transaksi hingga hanya tujuh detik dinilai semakin memperkuat kesiapan peluncuran mata uang BRICS pada 2026.
Dari sisi aset pendukung, anggota BRICS juga memperkuat cadangan emas fisik melalui pembelian langsung oleh bank sentral dari penambang domestik. Data World Gold Council mencatat, 19 dari 36 bank sentral dunia sudah mengadopsi model ini. Praktik ini dinilai mampu mengurangi dominasi bursa komoditas Barat sekaligus menegaskan kemandirian keuangan negara-negara BRICS.
Sejumlah pusat perdagangan emas telah beroperasi di lokasi strategis seperti Shanghai dan Singapura. Di Shanghai, Bursa Berjangka bahkan meluncurkan perdagangan emas fisik dengan penyelesaian instan (T+0) sejak 1 Maret 2024. Inovasi ini menggantikan dominasi mekanisme perdagangan berbasis kertas yang selama ini dipimpin oleh pasar Barat.
Analis memperkirakan dampak dari langkah BRICS ini akan terasa signifikan terhadap harga global. Permintaan emas fisik yang terus melonjak sudah memicu premi perak hingga 92 sen per ons, sementara suku bunga sewa jangka pendek emas melonjak ke 9,4 persen. Beberapa pakar bahkan memprediksi harga emas bisa menembus USD 8.000 per ons dalam jangka menengah.
Tidak hanya mengandalkan emas sebagai penopang, BRICS juga mengintegrasikan teknologi kontrak pintar (smart contract) dalam pengembangan mata uang baru. Mekanisme ini memungkinkan nilai tukar mata uang disesuaikan secara otomatis berdasarkan kondisi ekonomi dan perdagangan terbaru. Aset emas fisik akan disimpan di brankas aman di tiap negara anggota guna menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Jika peluncuran mata uang berbasis emas ini berjalan sesuai jadwal pada 2026, dunia akan menyaksikan tonggak sejarah baru dalam sistem keuangan global. Kehadiran instrumen pembayaran alternatif ini diperkirakan membuka babak baru perdagangan internasional yang lebih inklusif, mengurangi dominasi tunggal dolar AS, sekaligus memperkuat posisi BRICS sebagai blok ekonomi penantang hegemoni Barat.
Baca Juga
Komentar