Bhabinkamtibmas Hadiri Pemilihan Ketua RT di Bintara, Bekasi Barat
Pena Insight
Kota Bekasi, 3 Agustus 2025 — Gelaran pemilihan Ketua RT 04 RW 14 di Kelurahan Bintara, Kecamatan Bekasi Barat, menjadi cerminan geliat demokrasi tingkat lokal yang tak kalah penting dari panggung politik nasional. Sabtu malam (2/8), warga berbondong-bondong hadir untuk menggunakan hak pilihnya dalam suasana yang tertib dan hangat. Bhabinkamtibmas Kelurahan Bintara, Aipda Tedy Rivaldi, hadir langsung sebagai bentuk sinergi kepolisian dengan masyarakat sipil.
Pemilihan yang dimulai sejak pukul 21.00 WIB itu mempertemukan dua calon: Priambodo dan Abdul Azis. Dengan kehadiran yang cukup tinggi dari warga, acara ini mencerminkan semangat partisipasi warga dalam menentukan pemimpin lingkungan mereka. Namun, di tengah semangat itu, muncul pertanyaan: apakah partisipasi ini benar-benar tumbuh dari akar kesadaran demokrasi, ataukah sekadar seremoni tahunan tanpa daya kritis?
Aipda Tedy Rivaldi dalam sambutannya menyampaikan pesan penting soal kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat), yang seakan menjadi pengingat bahwa pemilihan sekecil apapun tetap berpotensi memicu gesekan. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusifitas pasca pemilihan, dan menyerukan agar warga tetap bersatu tanpa memandang hasil akhir.
"Kami ingin pemilihan ini tak hanya soal memilih pemimpin, tapi juga soal menjaga persatuan dan semangat gotong royong," ujar Tedy, yang juga membuka kanal komunikasi terbuka lewat layanan aduan SPKT Polsek Bekasi Barat. Ajakan ini menandakan bahwa keterlibatan polisi bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari upaya konkret mendekatkan kepolisian ke warga.
Kegiatan berlangsung tanpa insiden, dan bahkan terasa akrab. Ini bisa dibaca sebagai sukses, tapi juga bisa menjadi refleksi: apakah suasana kondusif ini cukup untuk menjamin keterbukaan, akuntabilitas, dan akurasi pilihan warga terhadap calon yang benar-benar representatif? Demokrasi lokal masih rentan terjebak pada popularitas, bukan kapabilitas.
Menariknya, kegiatan seperti ini seringkali luput dari sorotan media arus utama, padahal di sinilah fondasi dari stabilitas sosial masyarakat dibentuk. Pemilihan RT bukan hanya soal logistik atau kemenangan angka suara, melainkan titik awal konsolidasi sosial antara warga dan perangkat keamanan.
Kehadiran kepolisian dalam pemilihan warga juga mencerminkan pendekatan community policing, di mana penguatan hubungan emosional antara warga dan aparat hukum menjadi pondasi keamanan jangka panjang. Model ini relevan, apalagi di era digital yang rentan hoaks dan disinformasi di level mikro.
Namun demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan bahwa partisipasi warga tidak berhenti di bilik suara. Harus ada tindak lanjut berupa transparansi kerja Ketua RT terpilih, pelibatan warga dalam musyawarah, serta kontrol sosial yang aktif dari masyarakat terhadap struktur RT yang ada.
Pemilihan RT 04 RW 14 di Bintara adalah pengingat bahwa demokrasi dimulai dari lorong sempit kampung, bukan hanya dari podium elite politik. Tetapi untuk menjadi pilar demokrasi sejati, proses ini harus diisi dengan nilai-nilai kritis, partisipatif, dan berkelanjutan—bukan sekadar selebrasi musiman.
Baca Juga
Komentar