Berpulangnya Udar Pristono: Jejak Panjang, Kontroversi, dan Doa Perpisahan
Pena Insight
Jakarta, 25 Agustus 2025 - Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari Jakarta pada Senin, 25 Agustus 2025, pukul 08.02 WIB. Udar Pristono bin Soebardi, tokoh publik yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, meninggal dunia. Almarhum dikenal luas dalam dinamika kebijakan transportasi Ibu Kota, meninggalkan keluarga, sahabat, sekaligus catatan panjang perjalanan birokrasi dan kontroversinya.
Jenazah Udar Pristono disemayamkan di rumah duka, Komplek Liga Mas Blok F No. 6, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Pihak keluarga menyampaikan prosesi pemakaman akan diinformasikan lebih lanjut. Kehadiran pelayat dari berbagai kalangan menunjukkan betapa sosoknya masih meninggalkan jejak ingatan publik.
Namanya melejit ketika menjabat sebagai Kadishub DKI Jakarta pada masa Gubernur Fauzi Bowo hingga awal kepemimpinan Joko Widodo–Basuki Tjahaja Purnama. Ia menjadi bagian dari perencanaan besar transportasi Jakarta, termasuk pengelolaan TransJakarta dan wacana transportasi massal lain yang kala itu diharapkan mampu mengurai kemacetan.
Udar adalah cerminan kompleksitas birokrasi Ibu Kota. Namanya sempat terseret dalam kasus korupsi pengadaan bus TransJakarta yang menyita perhatian publik. Meski kemudian menjalani konsekuensi hukum, kepergiannya hari ini mengingatkan kita bahwa pejabat publik selalu dikenang dengan catatan penuh warna: dedikasi, kontroversi, sekaligus pertanggungjawaban.
Dari sisi kebijakan, Udar adalah bagian dari transisi transportasi Jakarta menuju sistem angkutan massal modern. Namun, implementasi kebijakan yang sering menimbulkan kritik memperlihatkan tantangan nyata tata kelola kota besar. Refleksi atas warisan ini penting agar publik bisa menilai sejauh mana reformasi transportasi benar-benar berpihak pada masyarakat.
Bagi keluarganya, Udar Pristono bukan sekadar pejabat publik, melainkan sosok suami dan ayah. Sang istri, Lieke Pristono, bersama anak-anaknya Aldi Pradana, Ocha Pradana, Amaranggana Bening, dan Jatituwuh Binar menyampaikan permohonan doa serta maaf atas segala kesalahan almarhum semasa hidup. Duka ini adalah kehilangan personal yang mendalam, meski publik mengenalnya dengan berbagai persepsi.
Bagaimana sebaiknya publik menyikapi kabar ini? Editorial ini mengajak kita untuk menempatkan almarhum dalam perspektif yang utuh: manusia yang memiliki dedikasi dan khilaf. Kritik terhadap kebijakan transportasi di masanya tetaplah bagian dari catatan sejarah, namun doa dan penghormatan terakhir tetap menjadi haknya sebagai seorang Muslim dan sebagai manusia.
Kematian, pada akhirnya, adalah pengingat universal. Wafatnya Udar Pristono dapat dijadikan refleksi bahwa jabatan dan kekuasaan selalu berhenti di pusara, sementara integritas dan doa tulus akan terus hidup dalam ingatan. Bagi publik, ini menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya akuntabilitas dan transparansi pejabat dalam mengemban amanah.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosa, dan menempatkannya di surga-Nya. Bagi yang ditinggalkan, kabar duka ini adalah pengingat bahwa setiap perjalanan hidup, sekaya apa pun pengalaman dan kontroversi, akan ditutup dengan doa dan pengharapan yang tulus.
Baca Juga
Komentar