Bekasi Berkebaya 2026: Kebaya Jadi Simbol Inklusivitas dan Motor Ekonomi Kreatif Kota Bekasi
Kota Bekasi q— Pemerintah Kota Bekasi melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menghadirkan Bekasi Berkebaya 2026 sebagai ajang pelestarian budaya yang berpadu dengan pemberdayaan ekonomi kreatif. Kegiatan ini digelar di Mall Pakuwon Kota Bekasi mulai 10 hingga 22 Februari 2026.
Bekasi Berkebaya bukan sekadar peragaan busana tradisional, tetapi juga menjadi ruang inklusif yang menonjolkan nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan partisipasi lintas komunitas. Ajang ini dirancang untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan industri kreatif lokal.
Acara tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto. Turut hadir Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Ibu Fatma Saifullah Yusuf, serta jajaran pejabat Pemerintah Kota Bekasi.

Di antaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bekasi Herbert S.W. Panjaitan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dzikron, Kepala Bidang Kreatif dan Daya Saing Produk Wuri Handayani, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Bekasi Ny. Fitrotun Junaedi.
Dalam sambutannya, Wiwiek menegaskan bahwa Bekasi Berkebaya merupakan bagian dari komitmen menjaga kebaya sebagai warisan budaya Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenakan kebaya pada momen seremonial, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kebanggaan identitas nasional.
“Melalui Bekasi Berkebaya, kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai dan menggunakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memberdayakan para desainer dan pengrajin lokal agar industri kreatif terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, khususnya Kota Bekasi, serta Indonesia secara umum,” ujarnya.
Selain aspek budaya, kegiatan ini juga mengangkat isu inklusivitas sosial. Fashion show anak-anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian acara.
Anak-anak disabilitas dari Sekolah Talenta tampil percaya diri di atas panggung, memperagakan busana dengan penuh semangat. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa setiap individu memiliki potensi dan hak yang sama untuk berkarya dan diapresiasi.
Wiwiek menilai penampilan anak-anak disabilitas tersebut membawa pesan kuat tentang keberanian dan makna inklusivitas. “Mereka mengajarkan kita tentang keberanian, kepercayaan diri, dan makna inklusivitas yang sesungguhnya,” katanya.
Tak hanya itu, Bekasi Berkebaya juga menghadirkan stand booth produk kreativitas penyandang disabilitas dan pelaku UMKM lokal. Produk-produk kerajinan, fesyen, hingga aksesori tradisional dipamerkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Rangkaian acara semakin semarak dengan fashion show karya para desainer lokal, penampilan Ketua Dekranasda Kota Bekasi, serta kolaborasi musik angklung dan kolintang oleh AIR Bhinaka & Bapontar yang memukau pengunjung.
Sinergi antara budaya dan ekonomi kreatif menjadi benang merah dalam kegiatan ini. Pemerintah Kota Bekasi menilai sektor kreatif memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui pemberdayaan pengrajin dan pelaku usaha kecil.
Bekasi Berkebaya 2026 diharapkan mampu menjadi agenda tahunan yang memperkuat citra Kota Bekasi sebagai kota yang adaptif terhadap modernitas tanpa meninggalkan akar budaya.
Melalui perhelatan ini, Kota Bekasi tidak hanya merayakan kebaya sebagai identitas nasional, tetapi juga membangun ruang publik yang inklusif, humanis, dan inspiratif—di mana budaya, kreativitas, dan nilai kemanusiaan berpadu dalam satu perayaan yang bermakna.
Baca Juga
Komentar