Bank Digital Tak Lagi Agresif, Daya Beli Rakyat Tercekik
Pena Insight
JAKARTA, 01 Juli 2025 — Lesunya daya beli masyarakat yang terus berlarut-larut menyeret bank digital ke dalam pusaran stagnasi. Harapan bahwa sektor perbankan digital dapat menjadi lokomotif pemulihan ekonomi nasional kini terantuk kenyataan: kredit konsumsi makin tak bergairah, bahkan cenderung menyusut. Data yang dirangkum mengonfirmasi bahwa pertumbuhan kredit konsumsi di bank-bank digital kian tipis akibat rendahnya minat dan kemampuan masyarakat untuk berutang.
Bank digital seperti PT Allo Bank Indonesia Tbk., PT Bank Jago Tbk., dan PT Bank Neo Commerce Tbk. tidak lagi melaju agresif. Mereka justru menahan laju penyaluran pinjaman konsumsi. Pengetatan ini dilakukan bukan karena kekurangan dana, melainkan karena risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang meningkat signifikan di tengah gejala pelemahan daya beli. Bank-bank ini memilih bertahan daripada bertaruh di pasar yang tidak menjanjikan.
Konsumen kelas menengah bawah menjadi kelompok yang paling terpukul. Mereka yang biasanya menjadi sasaran utama kredit daring dengan nilai kecil namun cepat cair kini tersisih akibat algoritma penyaringan yang semakin ketat. Segmentasi debitur kian eksklusif, hanya yang punya rekam jejak finansial solid yang lolos. Di sisi lain, kelompok pekerja informal dan pelaku UMKM kecil, yang seharusnya terbantu oleh bank digital, malah semakin terpinggirkan.
Jawabannya sederhana: proteksi atas kualitas aset. Seiring tekanan pada pendapatan rumah tangga dan ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi, bank digital tidak mau mengambil risiko memperbesar kredit bermasalah. Apalagi dalam konteks persaingan ketat antar-bank digital, menjaga reputasi dan tingkat kepercayaan pasar menjadi prioritas absolut.
Kawasan metropolitan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya menjadi barometer. Meskipun pengguna layanan digital di kota-kota ini tergolong tinggi, kecenderungan masyarakat untuk mengakses pembiayaan konsumsi justru turun. Mereka lebih memilih menunda pembelian barang sekunder, menahan pengeluaran, atau hanya menggunakan fitur digital untuk pembayaran dan transfer, bukan untuk kredit.
Para analis memperkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga setidaknya kuartal kedua 2026. Meski pemerintah telah menggulirkan insentif fiskal, efeknya belum cukup kuat untuk membalikkan tren konsumsi. Bank Indonesia pun tampak berhati-hati dalam merespon lewat kebijakan moneter. Jadi, pemulihan kredit konsumsi belum tampak di horizon dekat.
Mereka mulai menggeser fokus dari kredit konsumsi ke kredit produktif dan kemitraan B2B dengan ekosistem digital lainnya. Selain itu, layanan investasi mikro, proteksi asuransi digital, dan sistem dompet digital untuk loyalitas pengguna menjadi opsi yang terus dikembangkan. Diversifikasi ini menjadi jalan tengah untuk mempertahankan pengguna aktif sambil menekan risiko kredit.
Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi digital tanpa penguatan ekonomi riil hanya menciptakan ilusi pertumbuhan. Bank digital boleh saja mencetak lonjakan pengguna, tetapi tanpa kemampuan konsumsi masyarakat, pertumbuhan finansialnya akan timpang. Ini peringatan keras bagi regulator untuk segera menata ulang arah kebijakan fiskal dan sosial.
Ironisnya, justru perusahaan teknologi finansial (fintech) yang menawarkan layanan paylater dengan tenor pendek tampak masih mampu bertahan. Mereka mengambil ceruk pasar yang ditinggalkan bank digital, meskipun risiko kegagalan bayar juga tinggi. Ini bisa jadi menimbulkan bubble baru dalam ekosistem pinjaman digital jika tidak diawasi ketat oleh OJK.
Kegagalan penetrasi kredit konsumsi di bank digital bisa menjadi indikasi bahwa digitalisasi perbankan belum menyentuh akar masalah ekonomi: stagnasi pendapatan dan minimnya jaminan sosial. Jika kondisi ini dibiarkan, bank digital hanya akan menjadi platform transaksional tanpa kontribusi nyata terhadap inklusi keuangan.
Lesunya kredit konsumsi adalah cermin krisis struktural ekonomi rumah tangga Indonesia. Bank digital tidak lagi bisa sekadar menawarkan kemudahan pinjaman; mereka harus menjawab tantangan besar: bagaimana membangun daya beli secara berkelanjutan di tengah perubahan perilaku konsumen. Jika tidak, transformasi digital finansial akan berhenti sebagai proyek elit yang gagal menjangkau rakyat banyak.
Baca Juga
Komentar