Bank Banten Raup Laba Rp10,7 Miliar, Saham BEKS Merosot ke Rp26: Kebangkitan atau Sandiwara Lama?
JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten/BEKS) melaporkan laba bersih sebesar Rp10,7 miliar hingga kuartal III/2025. Meski mencatatkan kinerja positif, saham BEKS justru melemah ke level Rp26 per lembar di pasar reguler.
Manajemen menyebut, peningkatan laba didorong oleh efisiensi biaya operasional dan kenaikan pendapatan bunga bersih. Pemerintah Provinsi Banten sebagai pemegang saham pengendali juga menambah dukungan melalui penyertaan modal dan inbreng aset.
Namun di lantai bursa, sinyal positif itu tidak diikuti optimisme pasar. Saham BEKS yang sempat naik ke Rp34 beberapa Pekan Yang Lalu kini justru anjlok hingga menyentuh Rp26. Pergerakan yang tidak stabil ini memunculkan kecurigaan di kalangan pelaku pasar.
“Lonjakan cepat dan turun mendadak itu tidak mencerminkan fundamental. Ini lebih mirip pergerakan spekulan,” ujar seorang analis pasar modal kepada Pena Insight, Kamis (31/10).
Bagi sebagian investor, pola tersebut bukan hal baru. “Sudah sering begitu. Begitu keluar kabar laba, langsung dipoles seolah kebangkitan. Padahal tak ada perubahan nyata,” kata seorang investor ritel di kawasan Bekasi.
Bank Banten sendiri dikenal memiliki sejarah panjang penuh liku. Sejak diakuisisi pemerintah daerah, bank ini sudah berkali-kali melakukan rights issue dan menerima suntikan dana, namun kinerja keuangannya kerap terseok.
Masalah tata kelola dan lemahnya pengawasan internal juga menjadi sorotan. Kasus pembobolan dana nasabah oleh karyawan sendiri senilai Rp6,1 miliar beberapa tahun lalu masih membekas di benak publik.
“Kalau orang dalam bisa bobol rekening, bagaimana publik bisa percaya menitipkan uangnya?” sindir seorang akademisi ekonomi dari Universitas Nasional.
Kritik tajam juga diarahkan kepada regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai terlalu lunak terhadap emiten yang berulang kali bermasalah.
“Sudah bertahun-tahun gagal memperbaiki diri, tapi tetap dibiarkan melantai. Ini preseden buruk bagi pasar modal,” ujar pengamat pasar modal senior.
Desakan agar BEKS dikeluarkan dari daftar emiten mulai ramai terdengar. Delisting dinilai sebagai langkah ekstrem tapi perlu untuk menjaga integritas bursa dan melindungi investor ritel.
Namun hingga kini, Pemerintah Provinsi Banten tetap menaruh harapan pada perbaikan bertahap melalui penambahan modal dan restrukturisasi manajemen.
Sayangnya, publik menilai langkah itu tidak cukup. “Masalahnya bukan sekadar modal, tapi soal budaya transparansi dan profesionalitas. Tanpa itu, suntikan dana hanya jadi tambal sulam,” kata seorang analis perbankan di Jakarta.
Laba Rp10,7 miliar yang dilaporkan juga dianggap belum signifikan dibandingkan total aset dan modal yang telah disuntikkan pemerintah daerah selama ini.
Bahkan, sejumlah analis menyebut angka itu lebih mencerminkan efisiensi sementara ketimbang perbaikan fundamental. “Itu angka kosmetik, bukan bukti banknya sudah pulih,” ujar seorang pengamat keuangan.
Sementara harga saham yang kini stagnan di Rp26 memperlihatkan bahwa pasar belum sepenuhnya percaya pada narasi kebangkitan Bank Banten.
Fenomena BEKS kini kembali menjadi cermin lemahnya pengawasan pasar modal dan rapuhnya kepercayaan publik terhadap saham perbankan daerah.
Bagi investor ritel, BEKS lebih dari sekadar saham. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua yang naik di layar bursa benar-benar tumbuh di dunia nyata.
Baca Juga
Komentar