Wabah Campak di Sumenep, 12 Anak Meninggal, Ribuan Terinfeksi, Vaksinasi Rendah Dipicu Hoaks
Pena Insight
SUMENEP, Jawa Timur 23 Agustus 2025 – Wabah campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, telah menewaskan 12 anak dan menginfeksi hampir 2.000 balita dan anak-anak sejak Januari 2025. Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Sumenep mencatat 1.944 kasus campak hingga pekan ketiga Agustus.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun lalu yang hanya 319 kasus. Akibat lonjakan tersebut, Sumenep menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Menurut tenaga kesehatan Puskesmas Guluk-Guluk, dr Fita Rabianti, penyebab utama penyebaran masif adalah cakupan imunisasi yang rendah. “Masih banyak orang tua menolak vaksin karena percaya hoaks, bahkan ada yang takut vaksin dianggap haram. Akibatnya herd immunity tidak terbentuk,” jelasnya, Kamis (21/8/2025).
Beberapa orang tua juga enggan membawa anaknya ke fasilitas kesehatan karena menganggap campak hanya penyakit ringan atau “tampek”. Padahal, penyakit ini bisa berakibat fatal bila tidak ditangani serius.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan melaporkan 40 KLB campak di 37 kabupaten/kota sepanjang 2025, dengan 22.074 kasus suspek dan 3.282 kasus terkonfirmasi.
Sebagai langkah pencegahan, DKP2KB Sumenep akan melaksanakan imunisasi massal (Outbreak Response Immunization/ORI) mulai 25 Agustus 2025 hingga 13 September 2025, menargetkan 73.000 anak di 26 puskesmas.
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Wiraraja, Dian Permatasari, menegaskan pentingnya peran tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam kampanye vaksinasi. “Edukasi harus diperkuat karena masih ada anggapan salah bahwa imunisasi berbahaya,” ujarnya.
Pemerintah pusat kini tengah menyiapkan surat edaran kewaspadaan dini untuk seluruh dinas kesehatan di daerah, guna mempercepat respons terhadap penyebaran wabah campak di Indonesia.
Baca Juga
Komentar