Venezuela Marah Besar, Tuduh Jet Tempur AS Terbang Dekat Pantai Karibia
Bekasi – Pemerintah Venezuela melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat (AS) setelah mendeteksi keberadaan sejumlah jet tempur yang diduga terbang mendekati garis pantainya. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, menyebut aksi tersebut sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negaranya.
“Saya mengecam pelecehan militer ini di hadapan dunia. Ini adalah ancaman besar,” tegas Padrino dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis (2/10/2025).
Menurut Padrino, setidaknya lima pesawat tempur AS terpantau radar pertahanan udara Venezuela. Meski tidak merinci kapan insiden itu terjadi, ia menegaskan bahwa sistem militer mereka siap siaga memantau pergerakan lawan.
Pesawat-pesawat tersebut terdeteksi terbang dengan kecepatan sekitar 400 knot di ketinggian 35.000 kaki. Padrino menegaskan Venezuela tidak akan tinggal diam meski juga tidak ingin terjebak dalam provokasi.
“Kami mengawasi, tapi kami tidak akan terintimidasi,” ujarnya.
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi apakah jet-jet tersebut benar-benar memasuki wilayah udara Venezuela atau hanya melintas di perbatasan zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ). Padrino juga enggan menyebut langkah militer apa yang akan diambil jika provokasi berlanjut.
Insiden ini semakin memperburuk ketegangan antara Washington dan Caracas. Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan kedua negara kembali panas setelah AS meningkatkan operasi militer di kawasan Karibia selatan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menempatkan kapal-kapal perang di wilayah tersebut dengan dalih memberantas narkoba. Namun, Caracas menilai langkah itu hanyalah kedok untuk melakukan tekanan militer terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.
Laporan media menyebutkan, sedikitnya 14 orang tewas dalam operasi AS melawan kapal-kapal kecil yang dituduh menyelundupkan narkoba dari Venezuela menuju Amerika Tengah.
Trump bahkan menyatakan pekan ini bahwa AS akan memperluas operasi darat untuk mengejar jaringan kartel narkoba Venezuela. Pernyataan itu memicu spekulasi kemungkinan eskalasi dari operasi maritim menuju intervensi darat.
Associated Press melaporkan bahwa Washington kini menyebut kartel narkoba Karibia sebagai “kombatan ilegal.” Hal ini menempatkan AS dalam status “konflik bersenjata non-internasional” menurut hukum internasional.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan Venezuela. Namun pengamat menilai insiden terbaru ini dapat menjadi pemicu ketegangan militer baru di kawasan Amerika Latin.
Bagi Maduro, insiden ini bisa menjadi amunisi politik untuk menegaskan bahwa negaranya terus menghadapi ancaman eksternal, sekaligus memperkuat narasi anti-AS yang selama ini dijadikan pijakan legitimasi pemerintahannya.
Baca Juga
Komentar