Tragedi Longsor Cisarua: 16 Tewas, 80 Masih Hilang, Alih Fungsi Lahan Disorot Tajam
Bandung Barat- Bencana tanah longsor kembali menggunc ang Jawa Barat. Kali ini, peristiwa memilukan terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang merenggut belasan nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi ratusan keluarga. Longsor yang terjadi secara tiba-tiba pada Sabtu dini hari itu menimbun permukiman warga, memicu operasi pencarian besar-besaran yang hingga kini masih berlangsung.
Kepolisian Daerah Jawa Barat mencatat, hingga Minggu (25/1/2026) siang, sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara sekitar 80 warga masih dinyatakan hilang. Selain itu, 23 orang berhasil selamat, meski sebagian besar mengalami trauma akibat bencana tersebut.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, menyampaikan bahwa seluruh korban meninggal saat ini berada di Pos Disaster Victim Identification (DVI) di Puskesmas Pasirlangu untuk menjalani proses identifikasi lanjutan.
“Per pukul 12.00 WIB, jumlah kantong jenazah yang kami terima bertambah menjadi 16 kantong. Sebelumnya, pada Sabtu kemarin, kami telah mengekspose 11 kantong jenazah,” ujar Hendra kepada wartawan di Bandung, Minggu (25/1/2026).
Dari total 16 jenazah tersebut, sembilan korban telah berhasil diidentifikasi. Proses pencocokan dilakukan melalui data ante-mortem yang dikumpulkan dari keluarga, baik secara manual maupun digital, dengan sistem yang terintegrasi dengan data kependudukan nasional.
Ratusan Warga Mengungsi, Puluhan Rumah Rusak
Selain korban jiwa, dampak longsor juga menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga. Data sementara menyebutkan lebih dari 30 rumah rusak berat dari total 34 kepala keluarga yang terdampak langsung. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 300 hingga 400 orang, tersebar di beberapa lokasi pengungsian darurat.
Di lokasi bencana, ratusan warga tampak memadati area sekitar posko pencarian. Mereka menunggu dengan cemas kabar sanak saudara yang masih tertimbun material longsor. Harapan bercampur duka, bahkan bagi sebagian keluarga, menemukan jenazah kerabat dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kepastian.
“Yang penting ditemukan. Kami ingin tahu nasib keluarga kami,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar.
Longsor Terjadi Saat Warga Terlelap
Bencana ini terjadi di Kampung Pasir Kuning dan Kampung Pasir Kuda, RT 005 RW 011, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, sebagian besar warga tengah terlelap, sehingga tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
Material longsor berupa tanah, bebatuan besar, dan batang pohon meluncur dari perbukitan Gunung Burangrang, menimpa permukiman yang berada tepat di bawahnya. Gundukan tanah terlihat menutup seluruh area yang sebelumnya merupakan rumah warga.
Curah hujan tinggi disebut sebagai pemicu utama. Namun, faktor lain yang tak kalah krusial adalah alih fungsi lahan di kawasan tersebut.
Alih Fungsi Lahan Jadi Sorotan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara tegas menyoroti adanya alih fungsi lahan hutan di sekitar lokasi longsor. Ia menyebut area perbukitan yang seharusnya menjadi kawasan resapan air telah berubah menjadi kebun sayur dengan penggunaan plastik mulsa hingga ke puncak bukit.
“Ini sangat berbahaya. Tanahnya bertumpuk, rapuh, dan berpotensi ambles. Kondisi ini menyulitkan evakuasi dan berisiko longsor susulan,” kata Dedi saat meninjau lokasi bencana.
Menurutnya, pembukaan lahan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan mempercepat terjadinya bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah pegunungan seperti Cisarua.
Operasi SAR Terkendala Tanah Labil
Hingga kini, tim SAR gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan pencarian korban. Alat berat terus dikerahkan, namun kondisi tanah yang labil menjadi tantangan utama.
BNPB menyatakan bahwa setiap langkah pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko longsor lanjutan yang dapat membahayakan petugas.
BPBD Kabupaten Bandung Barat juga masih melakukan pendataan lanjutan terhadap rumah terdampak serta memantau potensi pergerakan tanah di sekitar lokasi.
Status Siaga Darurat Diperpanjang
BNPB menetapkan wilayah Bandung Barat dalam status siaga darurat bencana banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Status ini berlaku sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi hingga akhir April 2026, mengingat tingginya potensi bencana selama musim hujan.
Warga Dipastikan Direlokasi
Melihat tingkat kerawanan yang tinggi, Gubernur Dedi Mulyadi memastikan warga terdampak akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. Ia menilai kawasan tersebut tidak lagi layak untuk permukiman.
“Daerah ini harus dikembalikan fungsinya sebagai hutan. Warga akan direlokasi karena potensi longsor masih sangat tinggi,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, pemerintah memberikan bantuan Rp10 juta per kepala keluarga untuk biaya kontrak rumah selama dua bulan. Sementara itu, keluarga korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp25 juta per kepala keluarga.
Pelajaran Pahit dari Cisarua
Tragedi longsor di Cisarua menjadi pengingat keras akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Alih fungsi lahan tanpa pengawasan ketat, ditambah cuaca ekstrem, menjadi kombinasi mematikan yang berulang kali memicu bencana.
Kini, harapan tertuju pada kelanjutan proses pencarian korban, pemulihan warga terdampak, serta langkah tegas pemerintah untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
Baca Juga
Komentar