Terbaru Haji Isam Borong 10 Miliar Saham BYAN, Investor Bayan Resources Meledak 65,76 Persen
JAKARTA — Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Masuknya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama untuk mengambil sekitar 10 miliar saham atau 30 persen BYAN memicu perhatian besar investor.
Aksi tersebut menjadi salah satu transaksi kepemilikan paling mencolok di emiten batu bara sepanjang September 2026. Bukan hanya mengubah komposisi pemegang saham, kabar masuknya Jhonlin Group juga beriringan dengan lonjakan jumlah investor yang memegang saham BYAN.
Berdasarkan data yang dikutip dari laporan pasar, jumlah pemegang saham nasabah pemilik SID BYAN pada akhir September 2026 mencapai 8.187 investor, melonjak 65,76 persen dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 4.939 investor. Artinya, terdapat tambahan sekitar 3.248 pemegang saham dalam periode tersebut. (Emiten News)
Saham BYAN Sempat Meledak 43,95 Persen
Pergerakan saham BYAN juga sempat mengalami lonjakan sangat tajam.
Pada perdagangan 13 Agustus 2026, saham BYAN berada di kisaran Rp12.000 per saham. Setelah rumor mengenai aksi korporasi dan keterlibatan Haji Isam semakin ramai diperbincangkan, pergerakan saham emiten batu bara tersebut berubah drastis.
Puncaknya terjadi pada 18 Agustus 2026, ketika saham BYAN menyentuh Rp17.275 per saham.
Jika dibandingkan dengan level Rp12.000 pada 13 Agustus, kenaikan tersebut mencapai sekitar Rp5.275 atau 43,95 persen.
Lonjakan itu membuat BYAN menjadi salah satu saham yang paling banyak mendapatkan perhatian investor pasar modal pada periode tersebut.
Namun, pergerakan berikutnya menunjukkan volatilitas yang tinggi. Data perdagangan menunjukkan BYAN sempat ditutup Rp13.825 pada 18 September setelah sebelumnya pada 16 September bergerak dari Rp10.200 hingga ditutup Rp11.350. Pada 2 Oktober, saham BYAN tercatat ditutup di sekitar Rp11.750.
Dengan demikian, euforia harga saham tidak bergerak dalam satu arah secara terus-menerus. Setelah sempat melonjak tajam, BYAN kembali mengalami tekanan dan fluktuasi.
Haji Isam Masuk Lewat Jhonlin Baratama
Perubahan besar dalam struktur kepemilikan BYAN berawal dari penandatanganan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement (CSPA) pada 16 September 2026.
Dalam perjanjian tersebut, Low Tuck Kwong dan Elaine Low sepakat mengalihkan 10.000.000.500 saham biasa BYAN kepada PT Jhonlin Baratama.
Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari total 33.333.335.000 saham BYAN. PT Jhonlin Baratama merupakan bagian dari kelompok usaha Jhonlin milik Haji Isam.
Yang menarik, transaksi tersebut tidak sesuai dengan spekulasi awal yang sempat beredar di pasar.
Sebelumnya, muncul ekspektasi bahwa Haji Isam akan mengambil alih sekitar 62,25 persen saham BYAN, atau setara 20,79 miliar saham, yang merupakan gabungan kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Namun, berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah yang masuk dalam perjanjian akhirnya sebesar 10 miliar saham atau 30 persen.
Nilai transaksi tersebut juga tidak diungkapkan kepada publik dalam keterbukaan informasi awal.
Low Tuck Kwong Tetap Jadi Pengendali
Masuknya Haji Isam dengan kepemilikan 30 persen tidak otomatis membuat kendali Bayan Resources berpindah.
Manajemen BYAN menegaskan Low Tuck Kwong tetap menjadi pemegang saham utama sekaligus pengendali perseroan.
Setelah transaksi tersebut, Low Tuck Kwong diproyeksikan memiliki sekitar 6,95 miliar saham atau 20,853 persen, sedangkan Elaine Low menggenggam sekitar 3,80 miliar saham atau 11,399 persen.
Jika kedua kepemilikan tersebut digabungkan, keluarga Low masih memiliki sekitar 32,25 persen saham BYAN.
Sementara itu, Jhonlin Baratama akan memiliki sekitar 30 persen.
Komposisi tersebut membuat Haji Isam langsung berada di jajaran pemegang saham terbesar BYAN, tetapi belum menggeser posisi Low Tuck Kwong sebagai pengendali.
Manajemen juga menyatakan hingga akhir September belum terdapat rencana perubahan susunan Direksi maupun Dewan Komisaris terkait transaksi tersebut. BYAN juga belum menerima permintaan penyelenggaraan RUPS untuk membahas perubahan pengurus.
Investor BYAN Bertambah 3.248 Orang
Efek perubahan kepemilikan tersebut tidak hanya terlihat dari struktur pemegang saham.
Jumlah investor BYAN juga mengalami peningkatan signifikan.
Data per akhir September 2026 menunjukkan jumlah pemegang saham nasabah pemilik SID mencapai 8.187 investor, dibandingkan hanya 4.939 investor pada Agustus.
Kenaikannya mencapai 65,76 persen, atau bertambah sekitar 3.248 investor.
Data tersebut menjadi salah satu indikator bahwa BYAN mendapatkan perhatian besar dari investor pasar modal setelah kabar masuknya Jhonlin Group.
Di sisi lain, data KSEI per akhir September yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan saham free float BYAN berada di sekitar 7,09 miliar saham atau 21,29 persen.
Struktur pemegang saham di atas 1 persen juga masih memperlihatkan dominasi sejumlah pemegang saham strategis.
Selain Low Tuck Kwong dan Elaine Low, terdapat Sumber Suryadaya Prima dengan sekitar 10 persen, sejumlah perusahaan pembangkit listrik Korea dengan masing-masing sekitar 4 persen, Lim Chai Hock sekitar 3,26 persen, serta Jenny Quantero sekitar 2,98 persen berdasarkan data yang dikutip tersebut.
Bukan Sekadar Cerita Akuisisi
Masuknya Haji Isam ke BYAN menarik karena terjadi di sektor yang sama-sama menjadi bagian penting dari bisnis Jhonlin Group.
Bayan Resources sendiri merupakan perusahaan pertambangan batu bara terintegrasi dengan operasi tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Perusahaan mengoperasikan empat proyek besar dan memiliki rantai bisnis yang mencakup kegiatan pertambangan hingga logistik.
Sementara Jhonlin Group juga dikenal memiliki bisnis di sektor kontraktor pertambangan batu bara dan nikel serta penyewaan peralatan tambang.
Karena itu, kepemilikan 30 persen BYAN menjadi perhatian pasar bukan hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari perspektif hubungan strategis antara dua kelompok usaha besar di sektor pertambangan.
Meski demikian, sampai informasi yang disampaikan manajemen pada akhir September 2026, belum ada perubahan pengendalian maupun perubahan susunan manajemen BYAN.
Artinya, untuk saat ini struktur kendali Bayan Resources tetap berada di tangan Low Tuck Kwong, sementara Jhonlin Baratama masuk sebagai pemegang saham besar dengan porsi sekitar 30 persen.
Bagi investor, perhatian berikutnya akan tertuju pada penyelesaian seluruh persyaratan dalam CSPA, perkembangan struktur kepemilikan setelah transaksi, kebijakan Jhonlin Baratama sebagai pemegang saham besar, serta arah kinerja saham BYAN setelah euforia aksi korporasi mereda.
Baca Juga
Komentar