Taman Harapan RW 15 Duren Jaya Resmi Dibuka: Mural Kreatif, Gotong Royong Warga, dan Langkah Nyata Atasi Banjir
Bekasi — Sebuah ruang hijau sederhana di tengah permukiman padat kini menjelma menjadi simbol kebersamaan. Taman Harapan RW 15, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, resmi dibuka oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Rabu (21/1/2026). Peresmian taman ini bukan sekadar seremoni pembangunan fasilitas lingkungan, melainkan penegasan bahwa kolaborasi warga dan pemerintah mampu menghadirkan perubahan nyata dari tingkat akar rumput.
Acara peresmian turut dihadiri Anggota DPRD Kota Bekasi Fraksi PAN, Evi Mafriningsianti, serta perangkat kelurahan, pengurus RT/RW, dan warga setempat. Suasana hangat dan penuh antusias terasa sejak pagi, ketika anak-anak, ibu rumah tangga, hingga tokoh masyarakat berkumpul menyaksikan taman baru yang kini menjadi kebanggaan bersama.
Taman Harapan RW 15 berdiri di lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan. Kini, area tersebut disulap menjadi ruang publik ramah keluarga, lengkap dengan jalur pejalan kaki, tempat duduk, serta tembok mural yang mencuri perhatian. Beragam lukisan tematik menghiasi dinding taman — mulai dari pahlawan nasional, tokoh edukatif, hingga karya seni penuh warna yang dibuat langsung oleh warga.
Dalam sambutannya, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan apresiasi tinggi atas partisipasi aktif masyarakat. Menurutnya, keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian taman menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat di tengah kehidupan urban.
“Ini contoh nyata kolaborasi. Taman bukan hanya dibangun, tapi juga dirawat bersama. Warga tidak hanya menerima fasilitas, tapi ikut memperindahnya. Mural yang dibuat menambah nilai estetika sekaligus menumbuhkan rasa memiliki,” ujar Tri di hadapan warga.
Tri menegaskan bahwa pembangunan ruang publik seperti taman lingkungan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. Selain menyediakan ruang rekreasi, taman juga berfungsi sebagai tempat interaksi sosial yang memperkuat kebersamaan antarwarga.
Tak hanya berbicara soal ruang hijau, Wali Kota juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyinggung persoalan banjir yang masih menjadi tantangan di wilayah Duren Jaya dan sekitarnya. Ia mengingatkan bahwa beberapa hari sebelumnya telah melakukan inspeksi mendadak ke titik rawan banjir, termasuk area underpass yang mengalami luapan air akibat dinding kali bocor.
“Masalah banjir ini tidak bisa dibiarkan. Kita sudah identifikasi penyebabnya, salah satunya kebocoran dinding kali di area underpass yang membuat air masuk ke permukiman. Solusinya, akan dilakukan pengerukan kali serta penambalan dinding yang bocor agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tri memaparkan rencana lanjutan Pemerintah Kota Bekasi dalam pengendalian banjir di kawasan tersebut. Salah satu fokusnya adalah penyelesaian pembangunan polder di RW 10 dengan penambahan ketinggian tanggul. Langkah ini bertujuan mencegah tinggi muka air kali menyamai elevasi jalan di bawah underpass, yang selama ini menjadi salah satu titik kritis saat hujan deras.
Selain itu, pemerintah kota juga merencanakan pembangunan polder air dan rumah pompa di sekitar wilayah Duren Jaya. Infrastruktur ini diharapkan mampu mempercepat proses pembuangan air saat debit meningkat, sehingga genangan tidak sempat masuk ke kawasan permukiman warga.
Menurut Tri, upaya penanganan banjir tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Karena itu, ia mengajak perwakilan warga Duren Jaya untuk ikut memantau operasional rumah pompa di Kali Lengkak RW 8, Kelurahan Bekasi Jaya.
“Kita jaga bersama. Jika air mulai melimpah, bisa segera diinformasikan agar cepat ditangani. Kolaborasi pemerintah dan warga adalah kunci,” katanya.
Ajakan tersebut disambut positif oleh warga yang hadir. Bagi mereka, keterlibatan langsung dalam pengawasan lingkungan menjadi bentuk kepedulian terhadap keselamatan dan kenyamanan bersama.
Dalam kesempatan yang sama, Tri Adhianto juga menyinggung soal dana hibah sebesar Rp100 juta yang dialokasikan bagi wilayah setempat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara RT dan RW agar penggunaan dana tersebut benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“RT berperan sebagai pengusul kegiatan, RW sebagai penentu kebijakan di tingkat lingkungan. Jika sinergi ini berjalan baik, dana hibah akan transparan, akuntabel, dan hasilnya bisa dirasakan warga,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan lingkungan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang tata kelola yang baik. Pemerintah kota mendorong agar setiap rupiah dana publik digunakan dengan prinsip keterbukaan dan partisipasi.
Peresmian Taman Harapan RW 15 pun menjadi penutup manis dari rangkaian agenda tersebut. Anak-anak mulai berlarian di jalur taman, warga duduk bercengkerama, sementara mural warna-warni menjadi latar foto favorit pengunjung. Taman ini bukan sekadar ruang hijau, tetapi simbol harapan — bahwa dengan gotong royong, persoalan lingkungan dapat diatasi, dan ruang hidup yang lebih baik bisa diwujudkan bersama.
Ke depan, Pemerintah Kota Bekasi menargetkan pengembangan lebih banyak ruang publik berbasis partisipasi warga. Konsep kolaboratif seperti di RW 15 Duren Jaya diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain, bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan dimulai dari kepedulian di tingkat komunitas.
Dengan hadirnya Taman Harapan, semangat kebersamaan kembali tumbuh. Di tengah tantangan banjir dan dinamika kota yang terus berkembang, warga RW 15 membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil menanam harapan, merawat lingkungan, dan bergerak bersama.
Baca Juga
Komentar