Skandal Miss France, Mantan Pemenang Ungkap Dugaan Pemerkosaan
Pena Insight
Paris, 10 September 2025 — Ajang kontes kecantikan paling bergengsi di Prancis, Miss France, tengah diguncang skandal besar setelah terbitnya buku berjudul Miss France, du rêve à la réalité. Buku tersebut ditulis oleh Hubert Guérin, mantan wakil presiden organisasi Miss France, yang membeberkan kesaksian mengejutkan dari sejumlah mantan pemenang.
Dalam karyanya, Guérin mengungkapkan bahwa sekitar sepuluh mantan Miss France mengaku pernah mengalami kekerasan seksual, termasuk pelecehan hingga pemerkosaan. Peristiwa itu disebut terjadi dalam rentang waktu antara tahun 1990 hingga 2002, setelah mereka dinobatkan sebagai ratu kecantikan.
Beberapa kesaksian yang ditulis dalam buku ini sangat memilukan. Salah satu mantan pemenang menceritakan dirinya diperkosa hanya beberapa jam setelah dinobatkan. Ia mengaku dipaksa, diperlakukan kasar, hingga bajunya direnggut paksa oleh pelaku di dalam kamar hotel.
Meski peristiwa yang diceritakan sangat serius, hingga kini belum ada satu pun korban yang melaporkannya ke ranah hukum. Menurut Guérin, hal ini terjadi karena adanya “omertà” atau kultur diam yang membuat para pemenang enggan membuka suara, ditambah tekanan kuat dari industri kontes kecantikan yang sangat ketat.
Salah satu kutipan dalam buku menyebutkan adanya praktik pelecehan berupa sentuhan tidak pantas, pemaksaan kontak fisik, hingga kekerasan seksual yang melampaui batas. Pengungkapan ini seketika menimbulkan gelombang perdebatan di Prancis mengenai dunia pageant yang selama ini tampak glamor.
Reaksi dari publik dan mantan pemenang pun beragam. Camille Cerf, Miss France 2015, dengan tegas membantah bahwa dirinya pernah diwawancarai atau memberi kesaksian kepada Guérin. Ia meminta agar nama dan cerita para korban tidak disalahgunakan untuk sensasi semata.
Sementara itu, Valérie Claisse, Miss France 1994, mengakui bahwa pada masanya perlindungan terhadap pemenang jauh lebih minim dibandingkan saat ini. Ia berharap buku tersebut dapat mendorong korban lain untuk berani bersuara dan mengambil langkah hukum demi keadilan.
Organisasi Miss France sendiri sudah memberikan tanggapan resmi. Mereka menyatakan sedang memverifikasi laporan yang diungkap dalam buku itu. Jika terbukti benar, organisasi berjanji memberikan dukungan penuh kepada korban dan menyerukan agar kasus semacam ini tidak terulang kembali.
Skandal ini sontak mengguncang dunia fashion dan pageant di Eropa. Ajang Miss France yang sudah berjalan lebih dari satu abad dikenal sebagai salah satu kontes kecantikan paling bergengsi, namun kini citra tersebut tercoreng oleh dugaan pelecehan yang sangat serius.
Para aktivis perempuan di Prancis menilai pengungkapan ini sebagai momentum penting. Mereka mendesak agar industri kontes kecantikan lebih transparan, memberikan sistem perlindungan yang kuat, serta menyediakan jalur hukum bagi korban.
Kritik juga diarahkan pada sistem manajemen lama Miss France, yang dianggap terlalu menekankan citra glamor tanpa memperhatikan kondisi psikologis dan keselamatan pemenang. Hal inilah yang dituding menjadi celah terjadinya kasus pelecehan di masa lalu.
Di tengah sorotan media internasional, buku karya Guérin terus menjadi perbincangan hangat. Banyak pihak menilai, terlepas dari pro dan kontra, karya ini berhasil membuka tabir gelap di balik gemerlap kontes kecantikan Prancis.
Pengamat sosial menyebut kasus ini bisa menjadi titik balik bagi dunia pageant. Skandal Miss France diyakini akan mendorong reformasi besar dalam tata kelola ajang kecantikan, tidak hanya di Prancis tetapi juga di tingkat internasional.
Meski kontroversial, pengakuan para korban yang tertuang dalam buku ini menegaskan pentingnya keberanian untuk bersuara. Dunia kini menunggu langkah hukum yang mungkin diambil, sekaligus menuntut agar setiap pemenang pageant benar-benar dilindungi dari segala bentuk kekerasan.
Dengan mencuatnya skandal Miss France, sorotan kini tertuju pada langkah nyata organisasi, pemerintah, dan lembaga hukum Prancis. Kasus ini bisa menjadi ujian besar bagi komitmen negara dalam melawan kekerasan seksual, bahkan di panggung yang dianggap paling glamor sekalipun.
Baca Juga
Komentar