Semen Lesu, INTP Menjadi Saham Andalan Sekuritas: Efisiensi dan Buyback Jadi Jurus Ampuh
Pena Insight
Jakarta, 28 Juli 2025 — PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) mendadak mencuri perhatian di sektor semen yang sedang tertekan. Oleh sejumlah sekuritas, saham INTP dinobatkan sebagai pilihan utama—meski penjualan sektoral masih stagnan sepanjang semester pertama 2025.
Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menyebut bahwa INTP memiliki keunggulan kompetitif di tengah oversupply pasar semen. Kenaikan rasio pemakaian bahan bakar alternatif (AF) menjadi senjata efisiensi; semakin besar campuran RDF, margin EBITDA makin membaik.
Saat ini INTP menargetkan penggunaan bahan bakar turunan hingga 18% pada 2025, meningkat dari 2–4%. Potensi peningkatan efisiensi ini dianggap mampu mengerek margin hingga 1 poin persentase untuk tiap kenaikan 10% AF.
Sementara itu, mayoritas analis memproyeksikan permintaan semen domestik mampu tumbuh tipis sekitar 1–2,5% sepanjang tahun 2025. Program 3 juta rumah hingga proyek IKN menjadi katalis terbatas di tengah tekanan daya beli dan belanja infrastruktur.
Di tengah tekanan penjualan, INTP juga mempersiapkan strategi buyback saham senilai Rp 2,25 triliun. Langkah ini dianggap sebagai sinyal positif bahwa perusahaan percaya diri dengan likuiditas kas internalnya.
Meskipun demikian, saham INTP tidak luput dari risiko volatilitas pasar. Tingginya persaingan harga dan rendahnya utilisasi pabrik dapat mengganggu efisiensi biaya. Beberapa analis menilai INTP sebaiknya "hold" ketimbang agresif.
Phintraco Sekuritas melihat potensi pertumbuhan kecil di volume penjualan semen kantong, namun utilitas efisiensi operasional tetap menjadi tumpuan INTP. Mereka mempertahankan target harga sekitar Rp 8.800 – Rp 7.200 per lembar saham.
Secara fundamental, INTP mencetak laba positif beruntun dengan rasio DER rendah (< 1×) dan EPS stabil. Namun margin bersih (NPM) masih terkoreksi akibat tekanan volume dan kompetisi harga.
Investor institusi dan ritel kini mulai mengakumulasi saham INTP di harga bawah, sebagai sinyal kepercayaan terhadap potensi rebound pada semester II/2025. Perbaikan margin serta efisiensi operasional dianggap menjadi faktor penyangga.
Secara keseluruhan, INTP memadukan efisiensi bahan bakar, likuiditas kas kuat, serta strategi buyback sebagai pendekatan terpadu untuk menghadapi tekanan industri. Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar pilihan saham, melainkan pertaruhan atas daya tahan di sektor semen yang sulit.
Baca Juga
Komentar