Sambang Bukan Seremonial, Cara Nyata Bhabinkamtibmas Bangun Kerukunan Sosial di Sumurbatu
Pena Insight
Kota Bekasi, 29 Juli 2025 — Ketika masyarakat semakin haus akan perhatian nyata dari aparat negara, Bhabinkamtibmas Kelurahan Sumurbatu, Aipda Dwi S, menunjukkan bahwa pendekatan humanis jauh lebih efektif ketimbang instruksi formal. Lewat kegiatan sambang ke warga RT 03 RW 01, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Senin siang (28/7), Polri mengirim pesan kuat: keamanan sosial dimulai dari hubungan yang manusiawi dan saling percaya.
Kegiatan sambang yang digelar sejak pukul 11.30 WIB ini bukan sekadar rutinitas harian. Di balik kehangatan obrolan antara Bhabinkamtibmas dan warga, terselip strategi pendekatan komunikasi yang kini kembali digencarkan oleh institusi kepolisian. Tidak hanya menyampaikan pesan kamtibmas, Aipda Dwi S juga mengangkat isu-isu krusial seperti kepedulian sosial, solidaritas antarwarga, dan pentingnya mencegah konflik horisontal.
“Polri ingin hadir sebagai sahabat masyarakat,” tegas Aipda Dwi di tengah dialog santai. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran paradigma penegakan hukum menjadi pendekatan berbasis partisipasi dan empati. Sebuah model yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat urban yang plural dan dinamis seperti Kota Bekasi.
Salah satu poin penting dalam sambang tersebut adalah ajakan untuk menjaga kerukunan antartetangga. Di tengah polarisasi sosial dan tantangan ekonomi pascapandemi, nilai-nilai gotong royong dan empati menjadi fondasi utama menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Aipda Dwi mendorong warga untuk tidak apatis dan tetap responsif terhadap tetangganya.
Respons warga pun tidak kalah antusias. Beberapa di antaranya menyampaikan langsung keluhan soal pencahayaan jalan dan keamanan lingkungan malam hari. Aipda Dwi tidak hanya mencatat, tetapi langsung memberikan solusi jangka pendek sambil berkoordinasi dengan perangkat RT dan RW. Dialog dua arah ini mempertegas bahwa keamanan bukan milik polisi semata, tetapi tanggung jawab kolektif.
Kegiatan yang berakhir dengan suasana kekeluargaan itu menggarisbawahi betapa pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kamtibmas. Pendekatan seperti ini harus diapresiasi karena tidak menunggu masalah muncul, melainkan mencegahnya lewat komunikasi dan kehadiran langsung di tengah masyarakat.
Namun demikian, efektivitas program sambang ini tetap membutuhkan dukungan sistemik dari institusi Polri dan pemerintah daerah. Apakah model partisipatif ini akan terus diperkuat atau hanya sekadar proyek citra sesaat, masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, masyarakat sudah menunjukkan bahwa mereka siap terlibat jika diberi ruang.
Bhabinkamtibmas yang aktif turun ke lapangan seperti Aipda Dwi S menjadi teladan bagi pendekatan keamanan berbasis komunitas. Pendekatan yang lebih membumi, rendah hati, dan langsung menyentuh kebutuhan psikososial warga. Dalam era di mana banyak institusi kehilangan kepercayaan publik, aksi seperti ini justru menjadi titik balik membangun legitimasi Polri.
Sebagai bagian dari strategi pemeliharaan keamanan wilayah, sambang warga seharusnya menjadi model wajib di seluruh Indonesia. Bukan sekadar karena perintah atasan, tetapi sebagai refleksi nyata bahwa keamanan bukan tentang pengawasan semata, melainkan hubungan saling percaya antara masyarakat dan aparatnya.
Baca Juga
Komentar