Saham WIFI Milik Hashim Djojohadikusumo Diprediksi Meledak 2026, Laba Melonjak Hampir 180%
JAKARTA — PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) tengah menjadi sorotan pelaku pasar. Emiten telekomunikasi yang sahamnya turut dimiliki pengusaha nasional Hashim Djojohadikusumo ini ditaksir memasuki fase pertumbuhan agresif pada 2026, seiring ekspansi masif bisnis fixed broadband (FBB) melalui layanan fixed wireless access (FWA) dan fiber to the home (FTTH).
Proyeksi lonjakan kinerja tersebut membuat saham WIFI mulai dilirik sebagai kandidat kuat saham bertema konektivitas digital dengan potensi pertumbuhan di atas rata-rata industri. Sejumlah analis menilai, kombinasi model bisnis, aset spektrum, serta momentum rendahnya penetrasi internet broadband di Indonesia menjadi katalis utama yang bisa mendorong kinerja ke level baru.
Taruhan Besar di Internet Rakyat
Berdasarkan riset terbaru Phintraco Sekuritas, pengembangan layanan FWA WIFI diwujudkan melalui produk Internet Rakyat (IRA). Layanan ini didukung oleh kepemilikan spektrum 1,4 GHz di region 1, yang mencakup Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.
Wilayah tersebut merepresentasikan sekitar 61% total rumah tangga nasional, menjadikan IRA sebagai proyek strategis untuk menjangkau pasar yang selama ini belum tersentuh jaringan fiber optik secara optimal.
“Potensi bisnis fixed broadband di Indonesia sangat besar, mengingat tingkat penetrasinya masih tergolong rendah. Keterbatasan pengembangan jaringan fiber optic menjadi tantangan utama, dan FWA hadir sebagai solusi yang lebih cepat dan efisien,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, dikutip Jumat (23/1/2026).
Berbeda dengan fiber optik yang membutuhkan investasi besar dan waktu pembangunan panjang, FWA memungkinkan layanan internet rumah berbasis spektrum nirkabel dengan waktu implementasi lebih singkat. Model ini dinilai cocok untuk wilayah padat penduduk maupun daerah dengan keterbatasan infrastruktur kabel.
FTTH Jadi Pelengkap, Bukan Pesaing
Selain FWA, WIFI juga memperkuat portofolio melalui layanan FTTH, yang menawarkan kapasitas konektivitas lebih tinggi untuk segmen pengguna dengan kebutuhan bandwidth besar. Strategi ini membentuk arsitektur layanan internet yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
FWA menyasar penetrasi luas dan efisiensi, sementara FTTH fokus pada kualitas dan kecepatan tinggi. Kombinasi keduanya membuat WIFI memiliki fleksibilitas dalam menjawab tantangan geografis Indonesia yang beragam.
Phintraco memproyeksikan segmen FTTH akan membukukan pendapatan sekitar Rp1 triliun pada 2026, atau tumbuh 36% secara tahunan. Kontribusi ini memperkuat struktur pendapatan perusahaan agar tidak bergantung pada satu lini usaha saja.
Pendapatan Diproyeksi Tumbuh 164%
Dari sisi kinerja keuangan, WIFI diperkirakan memasuki fase akselerasi signifikan. Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan WIFI pada 2026 melonjak 164,5% menjadi Rp3,51 triliun.
Lonjakan tersebut terutama ditopang oleh segmen telekomunikasi yang diperkirakan berkontribusi sekitar 80% dari total pendapatan. Segmen Internet Rakyat diproyeksikan mulai memberikan kontribusi penuh pada tahun ini, dengan estimasi 3 juta pelanggan berbayar dan pendapatan sekitar Rp1,96 triliun.
Lebih jauh, pendapatan segmen IRA diprediksi terus meningkat hingga Rp2,7 triliun pada 2030, seiring perluasan jangkauan layanan dan pertumbuhan kebutuhan internet rumah di berbagai daerah.
Laba Bersih Melonjak, Margin Menggoda
Tak hanya pendapatan, laba bersih WIFI juga diprediksi melonjak tajam. Phintraco memperkirakan laba bersih 2026 mencapai Rp1,45 triliun, atau tumbuh sekitar 178% dibandingkan tahun sebelumnya.
Margin laba bersih diproyeksikan mencapai 41,4%, mencerminkan efisiensi biaya dan leverage operasional dari model bisnis FWA dan FTTH. Dari sisi beban, biaya operasional dinilai akan relatif ternormalisasi dengan pertumbuhan moderat di kisaran 3–5% pada 2026.
Struktur biaya yang terkendali menjadi faktor penting yang membuat lonjakan pendapatan dapat langsung diterjemahkan menjadi peningkatan laba bersih, bukan sekadar pertumbuhan top line.
Saham WIFI dan Faktor Kepemilikan Strategis
Keterlibatan Hashim Djojohadikusumo sebagai pemegang saham turut menjadi perhatian pasar. Selain faktor fundamental, kepemilikan oleh figur strategis dinilai memberikan kredibilitas tambahan terhadap arah bisnis dan keberlanjutan pendanaan jangka panjang.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa investor tetap perlu mencermati risiko eksekusi, termasuk kecepatan akuisisi pelanggan, kualitas layanan, serta dinamika regulasi spektrum dan industri telekomunikasi.
Peluang Besar, Tantangan Tetap Ada
Di balik prospek cerah, tantangan tetap membayangi. Persaingan industri broadband semakin ketat, baik dari operator seluler besar maupun pemain fiber optik mapan. Selain itu, keberhasilan model FWA sangat bergantung pada kualitas jaringan, stabilitas spektrum, dan pengalaman pelanggan.
Namun dengan rendahnya penetrasi fixed broadband nasional, ruang pertumbuhan dinilai masih sangat luas. Selama WIFI mampu menjaga kualitas layanan dan disiplin eksekusi, peluang pertumbuhan jangka menengah hingga panjang tetap terbuka lebar.
Dengan kombinasi ekspansi FWA melalui Internet Rakyat, penguatan FTTH, serta dukungan aset spektrum strategis, PT Solusi Sinergi Digital Tbk berada pada jalur pertumbuhan agresif. Proyeksi lonjakan pendapatan dan laba bersih pada 2026 membuat saham WIFI kian diperhitungkan sebagai saham bertema konektivitas digital dan infrastruktur internet.
Bagi investor, WIFI bukan sekadar cerita jangka pendek, melainkan refleksi dari kebutuhan fundamental Indonesia terhadap akses internet yang merata, cepat, dan terjangkau.
Baca Juga
Komentar