Saham Sawit Haji Isam Melonjak Tajam, Sentimen Program B50 Bikin JARR Bangkit dari ARB
JAKARTA -- Dua saham emiten kelapa sawit milik pengusaha Haji Isam alias Andy Syamsuddin Arsyad mencatatkan kenaikan signifikan dalam dua pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring sentimen positif dari keterlibatan perusahaan tersebut dalam program bahan bakar nabati B50 yang digagas pemerintah.
Program B50 sendiri merupakan kelanjutan dari inisiatif mandatori biodiesel yang bertujuan meningkatkan porsi campuran minyak sawit mentah (CPO) dalam bahan bakar solar. Langkah ini dianggap strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.
Dalam perdagangan bursa pekan ini, saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mencuri perhatian pelaku pasar. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham JARR menembus batas auto reject atas (ARA) pada dua sesi berturut-turut, yaitu 22 dan 23 Oktober 2025.
Saham JARR tercatat menguat hingga parkir di level Rp4.870 per saham pada Kamis (23/10). Kenaikan ini dianggap luar biasa, mengingat saham tersebut sempat terpuruk selama hampir satu pekan sebelumnya.
Sebelum rebound, JARR sempat mengalami auto reject bawah (ARB) secara beruntun sejak 14 hingga 21 Oktober. Pergerakan tajam tersebut menjadi perhatian analis, terutama karena volatilitas tinggi yang jarang terjadi pada saham sektor perkebunan.
Seorang analis pasar modal yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kenaikan JARR kali ini didorong oleh euforia investor atas potensi bisnis biodiesel yang semakin terbuka. “Setelah program B50 diumumkan, investor melihat ada peluang baru bagi emiten sawit yang terlibat langsung dalam rantai pasok,” ujarnya.
Selain JARR, saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang juga berada dalam lingkar bisnis Haji Isam, ikut menunjukkan performa serupa. PGUN mencatat penguatan signifikan dalam dua hari terakhir, seiring meningkatnya minat beli dari investor ritel dan institusi.
Menurut pengamat pasar modal dari Artha Sekuritas, Dennis Saputra, tren kenaikan saham sawit ini tidak lepas dari prospek jangka panjang industri CPO. “Permintaan global terhadap minyak nabati terus naik, dan kebijakan energi hijau pemerintah memberi efek berantai ke sektor sawit,” jelasnya.
Dennis menilai, investor kini mulai memposisikan diri pada emiten yang memiliki proyek hilirisasi dan dukungan pemerintah. “Jhonlin Group jelas punya posisi strategis karena terintegrasi dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa pelaksanaan uji coba B50 berjalan sesuai rencana. Jika berhasil, program tersebut berpotensi meningkatkan serapan CPO domestik hingga jutaan ton per tahun.
Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, dalam keterangan resminya menyebut bahwa proyek B50 bukan hanya agenda energi bersih, tetapi juga strategi menjaga stabilitas harga sawit nasional. “Program ini mendukung ketahanan energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia,” ujarnya.
Pelaku industri menyambut baik kabar tersebut. Salah satu sumber internal di lingkungan Jhonlin Agro Raya menuturkan bahwa pihaknya siap meningkatkan kapasitas produksi biodiesel untuk mendukung pasokan bahan baku program B50.
“Kami mendukung penuh kebijakan pemerintah. Ini menjadi peluang besar bagi perusahaan dan petani sawit di sekitar Kalimantan Selatan,” ungkap sumber tersebut.
Meskipun demikian, sebagian analis tetap mengingatkan investor agar berhati-hati terhadap potensi profit taking. Pasalnya, kenaikan harga yang terlalu cepat seringkali diikuti oleh koreksi jangka pendek.
“Euforia pasar bisa bertahan beberapa hari, tetapi investor sebaiknya tetap memperhatikan fundamental emiten,” kata Nicky Hogan, mantan Direktur BEI yang kini aktif sebagai pengamat pasar.
Nicky menambahkan bahwa fundamental sektor sawit masih kuat selama harga CPO global bertahan di atas level US$850 per metrik ton. Namun, ia juga menilai fluktuasi harga minyak mentah dunia bisa memengaruhi sentimen sektor energi terbarukan.
Dari sisi teknikal, saham JARR kini berada di zona overbought, sementara PGUN masih memiliki ruang penguatan terbatas. Investor disarankan untuk mengatur strategi masuk dengan disiplin pada level support.
Terlepas dari dinamika pasar, keberhasilan program B50 dinilai bisa memberi dampak luas bagi perekonomian nasional. Selain memperkuat industri sawit domestik, kebijakan ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru di daerah produsen.
Dengan menguatnya saham-saham milik Haji Isam, sektor sawit kembali menjadi sorotan utama di bursa. Investor kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dalam memastikan kelanjutan program B50 menuju tahap komersial penuh.
Baca Juga
Komentar