Saham GOTO Anjlok, Investor Asing Justru Borong
Jakarta, 15 September 2025 – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) kembali menjadi sorotan setelah harganya tertekan sepanjang pekan lalu. Nilai saham GOTO turun -3,39% ke level Rp57 per lembar, membuatnya masuk dalam daftar lima besar top laggards indeks LQ45.
Tekanan jual ini menambah daftar panjang tantangan GOTO di pasar modal, mengingat persaingan ketat sektor teknologi dan masih lemahnya sentimen investor terhadap saham digital.
Meskipun begitu, di balik pelemahan harga saham, data perdagangan menunjukkan adanya akumulasi oleh investor asing. Hal ini menimbulkan tanda tanya: mengapa saham yang terus turun justru ramai diborong institusi global?
Menurut catatan bursa, investor asing mencatatkan net foreign sell Rp75,1 miliar pada perdagangan pekan lalu. Namun, jika diteliti lebih dalam, mayoritas aksi jual dilakukan oleh ritel, sementara investor asing institusi besar justru memborong saham GOTO.
Beberapa nama besar seperti Goldman Sachs, Vanguard, dan Capital Group tercatat masuk ke jajaran pembeli signifikan. Aksi ini menandakan adanya kepercayaan jangka panjang terhadap prospek GOTO.
Kondisi ini menimbulkan paradoks. Di satu sisi harga saham terus tertekan, tetapi di sisi lain institusi global justru melihat peluang akumulasi. Hal ini lazim terjadi di pasar modal, di mana tekanan jangka pendek dimanfaatkan sebagai kesempatan masuk.
Bagi investor domestik, tren ini menjadi sinyal bahwa pelemahan harga belum tentu mencerminkan penurunan fundamental. Sebaliknya, bisa saja menunjukkan adanya fase redistribusi kepemilikan saham.
Sejumlah analis menilai, investor global melihat valuasi GOTO sudah relatif murah. Dengan kapitalisasi pasar yang masih besar, saham ini dinilai potensial menjadi aset jangka panjang.
Namun, risiko tetap tinggi. GOTO masih mencatatkan kerugian pada laporan keuangannya. Hal ini menjadi faktor utama mengapa sahamnya terus bergerak terbatas dalam jangka pendek.
Meski demikian, peluang perbaikan kinerja terbuka seiring efisiensi operasional dan integrasi ekosistem digital Gojek dan Tokopedia. Investor institusi tampaknya berspekulasi pada narasi pertumbuhan jangka panjang ini.
Bagi investor ritel, dinamika GOTO memberikan pelajaran penting tentang perbedaan strategi. Jika ritel cenderung fokus pada fluktuasi harian, institusi global lebih banyak melihat proyeksi jangka menengah hingga panjang.
Pasar modal memang sering kali bersifat paradoksal. Saham yang tampak melemah bisa justru menjadi incaran akumulasi bagi pemodal besar. Inilah yang sedang terjadi pada GOTO.
Dalam konteks indeks LQ45, kejatuhan GOTO turut menyeret pergerakan indeks. Namun, jika aksi akumulasi berlanjut, saham ini berpotensi pulih secara perlahan.
Investor perlu mencermati volume transaksi, bukan hanya harga. Lonjakan volume akumulasi asing menjadi indikator penting adanya potensi pembalikan arah.
Di tengah pelemahan, strategi buy on weakness tampaknya mulai dimainkan oleh investor asing. Hal ini menunjukkan kepercayaan pada prospek jangka panjang meski fundamental jangka pendek masih penuh risiko.
Kehadiran investor global seperti Goldman Sachs dan Vanguard juga memberi sinyal bahwa saham ini tetap menarik bagi dana institusi, meskipun volatilitasnya tinggi.
Namun, investor ritel disarankan tetap berhati-hati. Tanpa perhitungan matang, mengikuti langkah institusi bisa berisiko karena strategi dan horizon waktu keduanya sangat berbeda.
Ke depan, prospek GOTO akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen mempercepat efisiensi, meningkatkan pendapatan, serta mengurangi beban kerugian. Faktor inilah yang pada akhirnya akan menentukan arah harga saham.
Dengan kondisi saat ini, GOTO tetap menjadi saham kontroversial: di satu sisi menjadi top laggards, tetapi di sisi lain justru diborong oleh pemain besar global.
Baca Juga
Komentar