Saham BEKS Gorengan Harga Anjlok 25% Usai RUPSLB, Ini Fakta Kinerja Bank Banten
Jakarta — Harga saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) kembali mendapat sorotan pedas pasar modal setelah terjadi koreksi tajam pascapelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Januari 2026. Dalam periode akhir bulan Januari, saham BEKS dilaporkan turun sekitar 25 persen, mencerminkan kinerja yang buruk.
Peristiwa ini memicu diskusi investor di berbagai forum pasar modal karena bank milik Pemerintah Provinsi Banten tersebut belakangan disebut sebagai saham “gorengan” — istilah yang merujuk pada emiten yang harga sahamnya bergerak ngak jelas kapan naik nya sudah bertahun - tahun tidur.
Tekanan Harga Saham BEKS Usai RUPSLB
RUPSLB BEKS yang dilaksanakan akhir Januari lalu bertujuan membahas sejumlah agenda penting korporasi, termasuk penguatan struktur kepemilikan dan rencana strategis bank. Namun, respons pasar tampaknya justru menandakan skeptisisme investor. Data perdagangan bursa menunjukan saham BEKS terkoreksi tajam sejak minggu terakhir Januari 2026 pergerakan ini memicu kekhawatiran akan sentimen negatif yang melanda emiten tersebut.
Koreksi harga saham sempat naik Rp.38 perlembar meskipun akhirnya saham BEKS Rp.28 perlembar saat ini Namun momentum tersebut gagal mempertahankan kenaikan jangka panjang di tengah keraguan fundamental investor.
Kinerja Keuangan: Laba Meningkat tapi Return Rendah
Secara bisnis, Bank Banten memang menunjukkan beberapa capaian positif di periode terakhir. Pada kuartal I/2025, perseroan mencatatkan laba bersih Rp3,46 miliar, tumbuh sekitar 67,96 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Ini menandai peningkatan kinerja operasional bank dalam memanfaatkan efisiensi biaya dan ekspansi kredit secara moderat.
Selain itu, pada Agustus 2025, laporan keuangan memperlihatkan kenaikan laba bersih sebesar 39,56 persen menjadi Rp8,35 miliar, mencerminkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan pendapatan bunga bersih perseroan.
Meski demikian, ketika ditilik lebih jauh, perbaikan laba bersih tersebut belum dapat dikatakan signifikan untuk menyelesaikan persoalan struktur permodalan dan profitabilitas jangka panjang. Analisis fundamental menunjukkan bahwa marjin laba bersih Bank Banten masih sangat tipis jika dibandingkan dengan cost of capital bank, yang berada di kisaran 9–10 persen per tahun. Tingkat laba bersih berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan yang sehat.
Return on Equity & Risiko Leverage
Data fundamental lain menunjukkan bahwa Return on Equity (ROE) Bank Banten berada pada angka yang relatif rendah, yakni sekitar 2,31 persen pada 2024, padahal sektor perbankan umumnya menunjukkan ROE jauh lebih tinggi. Ini menandakan bahwa bank belum mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai bagi pemegang saham atas modal yang ditanamkan.
Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas perseroan yang tinggi menunjukkan adanya risiko leverage yang relatif berat dibanding bank-bank lain, menempatkan tekanan tambahan pada kinerja fundamental jangka panjang.
Harga Saham yang Lesu Meski Kinerja Membaik
Pergerakan harga saham BEKS yang lesu sebenarnya bukan fenomena baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan saat bank kembali mencetak laba setelah masa rugi, saham BEKS tetap belum menunjukkan tren kenaikan signifikan sesuai ekspektasi investor. Pada semester I/2024, meskipun perseroan sudah mencatat laba bersih positif, harga saham tetap bertahan di level rendah di BEI, mencerminkan tekanan psikologis pasar.
Ketidakmampuan harga saham untuk mencerminkan perbaikan kinerja sekilas memperlihatkan bahwa sentimen pasar tidak sepenuhnya terfokus pada metrik keuangan positif semata. Investor masih mencermati faktor lainnya seperti struktur permodalan, kualitas manajemen, dan kebijakan strategis jangka panjang.
Keluhan Investor: Fundamental vs Sentimen
Para analis pasar modal menilai bahwa saham BEKS selama ini telah menjadi salah satu emiten yang tertidur tidak bergerak. Meski laba bersih mengalami perbaikan bertahap, hal tersebut belum mampu menjamin pertumbuhan harga saham yang konsisten. Kinerja yang belum stabil ini dinilai sebagai salah satu alasan investor mengambil langkah wait-and-see atau bahkan keluar dari posisi di saham BEKS.
Investor Perlu Waspada: Risiko vs Peluang
Bagi para investor ritel maupun institusi, pelemahan saham BEKS menunjukkan bahwa ekspektasi BJTM sebagai pengendali adalah halusinasi.
Meski ada beberapa indikator positif dalam laporan keuangan, investor saat ini melihat bahwa perbaikan jangka panjang BEKS jangan jadi pilihan Investasi.
Baca Juga
Komentar