Rupiah Menguat ke Rp16.602 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed Soal Suku Bunga
JAKARTA – Kurs rupiah bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan lalu. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,16% secara harian ke posisi Rp16.602 per dolar AS pada perdagangan Jumat (24/10).
Sementara itu, mengacu pada kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah tercatat menguat 0,09% ke level Rp16.630 per dolar AS. Meski demikian, dalam sepekan terakhir, rupiah di pasar spot masih melemah tipis 0,07%.
Pergerakan rupiah disebut masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama dari arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini menanti sinyal terbaru soal kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa data inflasi inti AS untuk September naik 0,2% secara bulanan. Menurutnya, angka ini mengindikasikan inflasi yang mulai terkendali di tengah pelemahan tekanan harga.
“Pasar menilai rilis inflasi tersebut bisa menjadi sinyal bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter pada pertemuan mendatang,” kata Josua.
Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar level 4%. Stabilitas imbal hasil dinilai membantu menekan tekanan terhadap dolar AS.
Meski begitu, Josua mengingatkan bahwa potensi volatilitas rupiah masih terbuka. Pasalnya, faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik global dan arah harga komoditas masih menjadi penentu.
“Selama ketidakpastian global belum benar-benar mereda, investor akan tetap berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) disebut terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan likuiditas domestik.
Gubernur BI sebelumnya menegaskan, kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Penguatan tipis rupiah akhir pekan lalu juga ditopang oleh meningkatnya arus masuk dana asing di pasar obligasi. Investor mulai memanfaatkan momentum koreksi dolar untuk melakukan aksi beli.
Di pasar saham, sentimen positif ini turut mengangkat sebagian indeks sektoral, meski pergerakannya masih terbatas.
Beberapa analis memperkirakan, selama pekan ini rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.550 hingga Rp16.700 per dolar AS. Arah rupiah diperkirakan cenderung menguat terbatas.
Kendati demikian, risiko pelemahan bisa kembali muncul apabila data ekonomi AS menunjukkan penguatan signifikan, yang dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga kembali.
“Faktor yang paling krusial tetap data tenaga kerja dan inflasi AS. Dua indikator itu akan menentukan arah kebijakan The Fed berikutnya,” tutur Josua.
Selain itu, perkembangan ekonomi China dan harga minyak dunia juga disebut menjadi variabel penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah.
Jika ekonomi China menunjukkan perbaikan dan harga minyak tetap terkendali, maka tekanan terhadap rupiah bisa berkurang.
Namun bila ketidakpastian global meningkat, termasuk dari konflik di Timur Tengah, maka rupiah berpotensi kembali melemah.
Secara keseluruhan, pelaku pasar disarankan tetap mencermati setiap rilis data ekonomi global untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.
Baca Juga
Komentar