Rupiah Melemah ke Rp16.257 per Dolar AS, Sentimen Tarif Trump Picu Tekanan Pasar
Pena Insight
Jakarta, 10 Juli 2025 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Rabu sore di tengah tekanan global yang dipicu oleh kebijakan tarif dagang Presiden AS Donald Trump. Mata uang Garuda tertekan ke posisi Rp16.257,5 per dolar AS, mencatat depresiasi 0,32% atau 52 poin dibandingkan hari sebelumnya.
Sepanjang perdagangan hari ini, pergerakan rupiah terpantau fluktuatif. Dibuka melemah 41 poin di level Rp16.246,5 pada pukul 09.10 WIB, rupiah sempat mencoba menguat di sesi siang, namun tekanan eksternal menekan nilai tukar hingga akhirnya ditutup melemah pada sore hari.
Menurut pengamat valas Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah hari ini utamanya berasal dari pengumuman kebijakan tarif dagang Presiden AS Donald Trump, yang secara resmi akan mengenakan tarif 25% terhadap seluruh produk asal Jepang dan Korea Selatan mulai 1 Agustus 2025. Kebijakan ini memicu ketidakpastian global dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Tak hanya negara industri besar di Asia Timur, Trump juga mengumumkan tarif resiprokal sebesar 32% untuk Indonesia. Kebijakan ini, yang mulai berlaku bulan depan, dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas perdagangan Indonesia dan memperdalam tekanan pada kurs rupiah.
Sementara itu, data ekonomi AS yang masih kuat membuat investor meragukan kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Harapan pemangkasan suku bunga yang sebelumnya mendukung mata uang negara berkembang kini memudar, menyebabkan investor global kembali mengalihkan aset ke dolar AS.
Indeks dolar AS pada Rabu sore tercatat naik 0,13% ke posisi 97,63, memperkuat tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah. Sementara itu, mata uang kawasan mencatat kinerja campuran: dolar Singapura dan won Korea Selatan menguat, namun yen Jepang dan ringgit Malaysia melemah terhadap greenback.
Meskipun beberapa mata uang Asia mencatat penguatan moderat, pergerakan mereka tetap dibayangi oleh gejolak geopolitik dan kebijakan tarif baru dari AS. Rupiah berada dalam posisi yang lebih rentan karena ketergantungan terhadap ekspor komoditas dan ketidakpastian domestik terkait neraca transaksi berjalan.
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan tetap bergerak dalam rentang Rp16.200–Rp16.250 pada pekan ini, dengan kecenderungan melemah seiring sentimen negatif yang masih dominan. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar kini menanti sikap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dengan tekanan eksternal yang meningkat, sejumlah ekonom menyarankan agar Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas dan obligasi untuk meredam volatilitas. Langkah ini dinilai penting untuk menumbuhkan kepercayaan investor dan menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Kebijakan tarif Trump yang agresif diperkirakan menjadi katalis utama volatilitas pasar hingga kuartal ketiga 2025. Rupiah, sebagai salah satu mata uang dengan tingkat likuiditas tinggi di kawasan, akan terus rentan terhadap guncangan eksternal, terutama dari AS dan China.
Baca Juga
Komentar