Rosan Roeslani Klarifikasi Rencana Proyek Kilang Rp130 Triliun di AS, Danantara Tetap Prioritaskan Investasi Dalam Negeri
Pena Insight
Jakarta, 24 Juli 2025 — CEO Danantara Group, Rosan Roeslani, angkat bicara terkait isu proyek besar senilai Rp130 triliun yang dikabarkan akan digarap perusahaannya di Amerika Serikat. Isu ini mencuat seiring dengan kesepakatan perdagangan bilateral Indonesia–AS, yang menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Menanggapi kabar tersebut, Rosan menegaskan bahwa meskipun Danantara tetap terbuka terhadap peluang investasi global, fokus utama perusahaan tetap pada proyek-proyek domestik di Indonesia. Ia menyebut hanya sekitar 20% dari total portofolio investasi Danantara dialokasikan ke luar negeri, sedangkan 80% diarahkan untuk pembangunan nasional.
“Kita evaluasi semua potensi investasi. Tapi kita fokusnya tetap di Indonesia dulu,” ujar Rosan usai pertemuan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/7/2025).
Rosan menyampaikan bahwa peluang investasi di negara lain, termasuk Amerika Serikat, tetap dipantau secara cermat oleh tim manajemen. Namun, seluruh investasi luar negeri harus memenuhi tiga syarat utama, yakni:
-
Transfer teknologi ke Indonesia
-
Penciptaan lapangan kerja
-
Return atau imbal hasil di atas cost of capital (biaya modal)
“Yang penting ada nilai tambah, baik dalam bentuk teknologi, tenaga kerja, maupun return yang menguntungkan,” imbuh mantan Duta Besar Indonesia untuk AS tersebut.
Sebelumnya, Reuters mengabarkan bahwa Danantara disebut akan menandatangani kontrak EPC (Engineering, Procurement, and Construction) senilai US$ 8 miliar dengan KBR Inc., perusahaan rekayasa teknik asal AS. Proyek ini dilaporkan akan mencakup pembangunan 17 kilang modular, yang rencananya akan beroperasi di Indonesia, meski konstruksinya dikerjakan oleh mitra AS.
Dengan demikian, proyek kilang senilai Rp130 triliun itu tetap berbasis di dalam negeri, dan justru menjadi bagian dari sinergi perdagangan Indonesia–Amerika yang baru saja diperkuat. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi, kemandirian energi, dan penguatan infrastruktur strategis.
Rosan menambahkan bahwa kerjasama internasional semacam ini akan mempercepat pertumbuhan sektor energi dan manufaktur di Indonesia. Selain itu, transfer teknologi dari mitra luar negeri juga dinilai penting untuk membangun kapabilitas industri nasional.
Kesimpulannya, meski sempat menimbulkan spekulasi, proyek besar Danantara ini tetap berorientasi domestik dan mendukung visi pembangunan nasional. Investasi asing dilihat sebagai mitra strategis, bukan sebagai tujuan utama ekspansi.
Baca Juga
Komentar